Menurut Amiruddin, ruang digital kini menjadi salah satu medium yang digunakan untuk menyebarkan propaganda, melakukan perekrutan, hingga memengaruhi anak dan remaja.
“Ancaman radikalisme dan terorisme saat ini telah bergeser ke dalam genggaman gadget.
Rekrutmen, propaganda, hingga penghasutan kini masif dilakukan melalui platform media sosial seperti WhatsApp, Telegram, Discord, hingga forum anonim,” kata Amiruddin.
Ia menilai persoalan tersebut tidak bisa hanya dilihat dari sisi agama. Menurutnya, terdapat pula fenomena komunitas daring yang mengagumi tindakan kriminal ekstrem maupun ideologi kekerasan.
Amiruddin mengatakan sebagian anak dan remaja yang masuk ke komunitas semacam itu memiliki persoalan sosial sebelumnya, seperti menjadi korban perundungan, persoalan keluarga, maupun lingkungan pergaulan yang tidak sehat.
“Sebanyak 70 anak di bawah umur usia antara 11 hingga 18 tahun yang diamankan aparat karena terafiliasi TCC.
Mayoritas dari mereka yang terafiliasi TCC adalah korban perundungan atau masalah keluarga dan korban pergaulan yang salah yang mencari pelarian di ruang digital, lalu terprovokasi melakukan aksi kekerasan,” ujarnya.
Orang Tua Diminta Kenali Perubahan Perilaku Anak
Atas kondisi tersebut, Amiruddin meminta orang tua dan guru tidak berhenti pada pengawasan terhadap penggunaan gawai.
Menurutnya, pendekatan yang tidak kalah penting adalah membangun komunikasi terbuka dengan anak sehingga perubahan perilaku dapat diketahui sejak dini.
Orang tua dan guru, kata dia, perlu menciptakan ruang yang aman dan inklusif agar anak tidak mencari tempat pelarian ketika menghadapi persoalan di keluarga, sekolah maupun lingkungan pergaulan.
“Jangan hanya melihat berapa lama anak menggunakan gadget, tetapi juga apa yang mereka lihat, dengan siapa mereka berinteraksi, dan apakah ada perubahan perilaku yang perlu diperhatikan,” kata Amiruddin.
Ia menilai kolaborasi antara keluarga, sekolah, masyarakat dan aparat menjadi penting untuk mencegah anak terpapar konten maupun komunitas yang mengarah pada ekstremisme dan kekerasan.
Edukasi Kebangsaan Berkelanjutan
Amiruddin menegaskan PGNI Lampung berkomitmen melanjutkan roadshow kebangsaan sebagai bagian dari upaya memperkuat ketahanan masyarakat, khususnya generasi muda.
Menurut dia, pendidikan kebangsaan perlu dilakukan secara berkelanjutan dengan pendekatan yang dekat dengan kehidupan anak, termasuk memahami tantangan yang mereka hadapi di dunia digital.
Diskusi kebangsaan dalam kegiatan tersebut diisi oleh Ken Setiawan dan dimoderatori Ustaz Amrulloh dari Kementerian Agama.



