Anak Rentan Terpapar Radikalisme Lewat Game Online, Orang Tua Perlu Waspada

0 Shares

HOLOPIS.COM, JAKARTA – Game online bukan lagi sekadar tempat anak bermain dan mencari hiburan. Di balik interaksi digital yang terlihat biasa, ada risiko paparan ekstremisme yang bisa menyasar anak dan remaja ketika mereka kurang mendapat pendampingan serta literasi digital.

Akademisi Fakultas Psikologi Universitas Pancasila, Putri Langka, menilai pendekatan dialogis antara orang tua dan anak menjadi salah satu langkah penting untuk mencegah radikalisasi digital.

“Karena sekarang akses internet sangat mudah, dunia daring menjadi tempat pelarian,” kata Putri dalam keterangannya pada Rabu (14/10/2026).

Menurut Putri, bagi anak dan remaja yang tumbuh di era digital, game online memiliki fungsi lebih luas daripada sekadar hiburan. Ruang digital menjadi tempat mereka bermain, berteman, mencari pengakuan, belajar, hingga membangun hubungan sosial.

Masalah muncul ketika aktivitas tersebut berlangsung tanpa pengawasan yang memadai dan tidak dibarengi pemahaman mengenai keamanan digital.

Situasi ini berpotensi dimanfaatkan pihak yang tidak bertanggung jawab, termasuk kelompok radikal dan jaringan ekstremis. Mereka dapat mencoba mendekati anak melalui fitur obrolan dalam game maupun grup media sosial tertutup.

Putri menjelaskan, anak dan remaja sedang berada dalam fase pencarian identitas. Pada tahap ini, penerimaan dari teman sebaya terkadang terasa lebih penting daripada nasihat orang tua.

Kondisi tersebut bisa semakin rumit ketika perbedaan generasi membuat komunikasi di rumah tidak berjalan dengan baik.

“Dengan kondisi psikologis remaja yang kritis, tetapi pertimbangannya belum utuh, perekrutan untuk radikalisme terhadap mereka menjadi sangat mudah,” kata Putri.

Pelaku Bisa Mendekat Secara Perlahan

Paparan ekstremisme di ruang digital tidak selalu dimulai dengan ajakan yang terang-terangan. Menurut Putri, proses pendekatan dapat berlangsung secara bertahap melalui interaksi yang konsisten hingga pelaku berhasil membangun kepercayaan.

Pelaku bisa memberikan perhatian, dukungan, atau rasa diterima yang mungkin tidak dirasakan anak dalam kehidupan sehari-hari.

Ketika hubungan emosional mulai terbentuk, kedekatan tersebut berpotensi dimanfaatkan untuk memengaruhi cara berpikir dan sikap anak.

“Hal ini menciptakan rasa senang dan berterima kasih dari anak, yang justru berbahaya ketika anak mulai merasa berutang kebaikan,” katanya.

Karena itu, orang tua perlu memahami bahwa ancaman di ruang digital tidak selalu terlihat sebagai sesuatu yang berbahaya sejak awal. Hubungan yang tampak seperti pertemanan biasa pun perlu diperhatikan apabila mulai disertai tekanan, manipulasi, atau ajakan yang mengarah pada kekerasan dan ekstremisme.

Kenali Perubahan Perilaku Anak

Putri menekankan pentingnya mengenali perubahan perilaku sebagai salah satu langkah awal untuk melindungi anak.

- Advertisement -
Google News

Jadikan Holopis.com sebagai sumber utama pilihanmu di Google untuk mendapatkan berita terbaru dan informasi aktual.

Tambahkan Sekarang
Ronalds Petrus Gerson
Tim Penulis & Editor
Ronalds Petrus Gerson
Apresiasi untuk Ronalds Petrus Gerson

Menyukai tulisan ini? Dukung penulis agar dapat terus menghadirkan karya berkualitas.

Pembayaran via QRIS, GoPay, DANA, OVO & ShopeePay.
0 Shares
Cloud Startup - Bikin Website Kamu Makin Ngebut
Holopis UMKM
DKI JAKARTA
☀️ 🌙
00:00:00
Memuat Tanggal...
MEMUAT
-
---- H
MEMUAT 00:00
-- : -- : --
Waktu Dhuha --:-- — --:--

YANG BARU