LAMPUNG, HOLOPIS.COM – Layar sinema di Bumi Ruwa Jurai kembali dihangatkan oleh hadirnya sebuah karya visual yang tidak hanya memanjakan mata, tetapi juga menyentuh kedalaman jiwa.
Film bertajuk Ageman hadir menyuguhkan pesan mendalam tentang indahnya merawat keharmonisan di tengah lanskap masyarakat yang heterogen.
Diambil dari khazanah bahasa Jawa, Sunda, hingga Bali, kata Ageman secara harfiah dimaknai sebagai pakaian, pedoman, atau pegangan hidup.
Judul sederhana ini menyimpan filosofi kuat bahwa identitas suku, ras, budaya, maupun agama adalah amanah mulia untuk saling mengenal dan melengkapi, bukan untuk memicu prasangka apalagi memisahkan.
Gelombang apresiasi terhadap film edukatif yang mengusung misi toleransi, keberagaman, dan literasi rasional ini terus mengalir. Kali ini, dukungan penuh datang dari Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Provinsi Lampung, Prof. Dr. H. M. Bahruddin, M.A.
Prof. Bahruddin menilai bahwa kehadiran karya kreatif seperti film Ageman menjadi angin segar sekaligus medium komunikasi publik yang sangat presisi dalam menanamkan nilai-nilai kerukunan, khususnya bagi generasi muda.
Sebab menurutnya, pemahaman toleransi yang tergerus dan berkembangnya sikap intoleransi merupakan embrio dari lahirnya paha-paham radikalisme yang berbahaya bagi keutuhan bangsa.
“Film ini berhasil memotret realitas sosial kita secara berimbang, mengajarkan bahwa perbedaan keyakinan bukanlah sekat, melainkan kekayaan bangsa yang harus kita rawat bersama,” ujar Prof. Bahruddin, Senin (28/9/2026).
Lebih lanjut, ia menaruh harapan agar film ini tidak berhenti sebagai hiburan visual semata di dalam bioskop, melainkan menjadi pemantik ruang dialog yang sehat di berbagai lini kehidupan masyarakat.
“Kami berharap film ini tidak sekadar menjadi tontonan yang menghibur, tetapi menjadi pemantik diskusi di sekolah, kampus, dan seluruh lapisan masyarakat. Semoga pesan damai yang dibawa dalam film ini mampu memperkuat komitmen kebangsaan kita,” jelasnya.
Sutradara Film Ageman, Jasper Lance, memaparkan bahwa alur cerita film ini diadaptasi dari rekam jejak perjalanan hidup Ken Setiawan seorang mantan aktivis gerakan radikal yang kini telah insyaf dan mendedikasikan hidupnya sebagai Kabid Pemuda dan Pendidikan FKPT Lampung untuk membumikan moderasi beragama.
“Melalui metamorfosis hidup Ken Setiawan dari radikalisme ke moderat, film ini diharapkan mampu menjadi cermin jernih yang memberikan pemahaman mendalam bagi seluruh lapisan masyarakat,” tutur Jasper.
Senada, Eksekutif Produser Film Ageman sekaligus Ketua FKPT Provinsi Lampung, Dr. M. Firsada, berharap pesan inklusif dalam karya ini mampu mengetuk pintu hati penonton luas.



