Dari 931 lokasi yang ditangani, sebanyak 811 lokasi telah selesai.
Distribusi air bersih menjadi metode utama. Kementerian PU mencatat layanan tersebut telah dan sedang dilakukan di 902 lokasi, atau sekitar 96,9 persen dari total penanganan kekeringan di kawasan permukiman.
Artinya, sebagian besar intervensi di wilayah permukiman diarahkan untuk memastikan masyarakat tetap mendapatkan air untuk kebutuhan sehari-hari.
Dampak kekeringan juga meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan.
Pemerintah mencatat 141 lokasi karhutla telah dan sedang ditangani. Dari jumlah tersebut, 137 lokasi sudah berhasil dipadamkan.
Penanganan karhutla dilakukan sebagai bagian dari upaya pemerintah mengurangi dampak kekeringan yang berpotensi memperbesar risiko kebakaran di sejumlah wilayah.
Jawa Jadi Wilayah dengan Penanganan Terbesar
Jika dilihat dari persebarannya, Pulau Jawa menjadi wilayah dengan cakupan penanganan kekeringan terbesar.
Total terdapat 728 lokasi yang ditangani di Pulau Jawa.
Intervensi tersebut membantu menyelamatkan sekitar 26.346 hektare lahan sawah sekaligus memenuhi kebutuhan air bersih bagi 533.604 jiwa.
Angka tersebut menunjukkan besarnya kebutuhan penanganan air di wilayah yang menghadapi tekanan kekeringan.
Kementerian PU memastikan sumber daya dan infrastruktur yang tersedia terus dikerahkan untuk menghadapi kondisi tersebut.
“Melalui berbagai langkah tersebut, Kementerian PU terus mengerahkan sumber daya dan infrastruktur yang tersedia untuk menghadapi dampak kekeringan, menjaga ketersediaan air bagi masyarakat, serta melindungi lahan pertanian agar produktivitas pangan tetap terjaga,” pungkas dia.
Pemerintah berharap berbagai intervensi tersebut dapat membantu masyarakat melewati periode kekeringan sekaligus menjaga produktivitas pertanian dan ketersediaan pangan nasional.



