Beberapa tanda yang perlu diwaspadai antara lain hipersalivasi atau produksi air liur berlebihan, hidrofobia atau ketakutan terhadap air, fotofobia atau sensitif terhadap cahaya, demam, serta perubahan perilaku tanpa sebab yang jelas.
“Kalau yang di hewan itu dia lebih ke hipersalivasi, jadi keluar air liur yang banyak banget. Terus yang kedua ada hidrofobia, takut sama air. Terus ada fotofobia, dia takut sama cahaya,” jelasnya.
Perubahan perilaku seperti agresif secara tiba-tiba juga perlu diperhatikan, terutama jika muncul tanpa adanya ancaman atau pemicu yang jelas. Hal tersebut berbeda dengan perilaku hewan yang menggigit karena merasa terancam atau mempertahankan diri.
Dokter Mentari juga menilai edukasi mengenai rabies masih perlu diperkuat oleh pemerintah agar masyarakat memahami risiko penyakit rabies, mengenali tanda-tandanya, serta mengetahui langkah yang harus dilakukan setelah mengalami gigitan atau cakaran.
“Edukasi ke masyarakat, lebih diinfokan lagi rabies itu apa sebenarnya. Apa yang membuat rabies ini harus diperhatikan juga,” pungkasnya.
Pemahaman masyarakat mengenai langkah penanganan rabies menjadi bagian penting dalam mencegah risiko penularan. Terlebih, gigitan atau cakaran dari hewan yang berisiko membawa rabies perlu segera dibersihkan dan diperiksakan ke fasilitas kesehatan.
Hari Rabies Sedunia 2026 tidak sekadar hari peringatan, melainkan juga momentum untuk kembali mengingatkan pentingnya pencegahan rabies melalui vaksinasi hewan, kewaspadaan terhadap perubahan perilaku hewan, serta penanganan cepat setelah terjadi gigitan atau cakaran. Upaya pencegahan tersebut membutuhkan keterlibatan masyarakat, tenaga kesehatan, tenaga kesehatan hewan, dan pemerintah agar risiko penularan rabies dapat ditekan.




💬 Diskusi Pembaca
0 KomentarMasuk dengan akun Google Anda untuk bergabung dalam diskusi:
Memuat diskusi...