LAMPUNG, HOLOPIS.COM – Jaringan GUSDURian Lampung menyatakan dukungan penuh terhadap film edukatif bertajuk Ageman yang mengangkat pesan toleransi, kemanusiaan, dan perjuangan merawat keberagaman di Indonesia.
Koordinator GUSDURian Lampung, Yogi Prazani, menilai film tersebut bukan sekadar hiburan visual, melainkan refleksi atas pemikiran, perjuangan, dan warisan nilai-nilai Presiden ke-4 RI Abdurrahman Wahid atau Gus Dur, khususnya mengenai toleransi.
Menurut Yogi, film Ageman berhasil menggambarkan bahwa toleransi tidak cukup hanya menjadi slogan, tetapi harus diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari, dialog yang setara, serta keberpihakan terhadap kelompok masyarakat yang terpinggirkan.
“Kami memandang karya Film Ageman ini bukan sekadar hiburan visual, melainkan sebuah refleksi jernih yang menangkap esensi terdalam dari pemikiran, perjuangan, dan warisan nilai-nilai Gus Dur, terutama dalam konteks toleransi,” ujar Yogi dalam keterangannya yang diterima Holopis.com, Selasa (29/9/2026).
Ia mengatakan, pesan yang diangkat dalam film tersebut relevan dengan upaya membangun kehidupan masyarakat yang saling menghormati di tengah perbedaan.
Yogi pun mengajak seluruh penggerak GUSDURian, pencinta pemikiran Gus Dur, serta berbagai elemen masyarakat untuk mengapresiasi, menonton, dan mendiskusikan film tersebut.
Menurutnya, Ageman diharapkan dapat menjadi pemantik ruang dialog yang inklusif di lingkungan masyarakat sekaligus meneruskan perjuangan Gus Dur dalam merawat Indonesia yang majemuk, adil, dan manusiawi.
“Semoga pesan-pesan perdamaian di dalamnya mampu mengetuk pintu hati kita semua untuk terus memanusiakan manusia,” tuturnya.
Diangkat dari Kisah Nyata Mantan Aktivis Radikal
Sementara itu, sutradara film Ageman, Jasper Lance, menjelaskan bahwa cerita dalam film tersebut diangkat dari perjalanan hidup Ken Setiawan, mantan aktivis radikal yang telah meninggalkan paham tersebut.
Ken kini aktif sebagai Kepala Bidang Pemuda dan Pendidikan Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Lampung. Dalam perannya, ia terlibat dalam kampanye pencegahan intoleransi dan terorisme.
Kisah tersebut menjadi salah satu landasan film Ageman dalam menyampaikan pesan tentang perubahan, perdamaian, dan pentingnya membangun kesadaran masyarakat untuk menolak intoleransi serta radikalisme.
Melalui pengangkatan kisah nyata tersebut, film ini diharapkan dapat memberikan gambaran mengenai perjalanan seseorang dalam meninggalkan paham kekerasan dan mengambil peran dalam upaya menjaga kerukunan.
Diharapkan Jadi Benteng Moral Masyarakat
Produser Eksekutif Film Ageman sekaligus Ketua FKPT Provinsi Lampung, Muhammad Firsada, menegaskan bahwa nilai-nilai inklusif yang diusung dalam film tersebut diharapkan mampu menjadi benteng moral bagi seluruh elemen masyarakat Indonesia.
Ia menilai pesan dalam film itu penting untuk memperkuat kesadaran publik mengenai pentingnya menjaga kerukunan dan menghormati perbedaan.
“Film ini sangat layak ditonton oleh masyarakat luas agar kita semakin menyadari pentingnya menjaga kerukunan dan saling menghargai di tengah perbedaan, tanpa ada lagi celah bagi potensi intoleransi maupun radikalisme,” pungkas Firsada.



