JAKARTA – Detasemen Khusus 88 Anti Teror Mabes Polri (Densus 88 AT Polri) mendorong agar Indonesia benar-benar “Zero Attack”. Semua dilakukan melalui proses radikalisasi, cluster kekerasan, strategi pencegahan melalui pendekatan hard approach dan soft approach, serta implementasi Rencana Aksi Nasional Pencegahan dan Penanggulangan Ekstremisme (RAN PE).
Hal ini disampaikan oleh Densus 88 karena seluruh ideologi yang masuk ke dalam masing-masing individu tidak muncul begitu saja, ada berbagai rangkaian proses sehingga ideologi radikalisme bisa masuk ke seseorang dan berujung pada tindakan kejahatan.
Oleh sebab itu, anggota Direktorat Cegah Densus 88 AT Polri, Iptu Rudiana Bachrie mengajak para pihak termasuk lingkungan keluarga dan pendidikan agar ikut aktif dalam melakukan deteksi dini dan antisipatif.
“Ideologi radikal tidak muncul secara instan, tetapi melalui proses panjang yang harus dicegah sejak dini melalui penguatan keluarga, pendidikan, dan lingkungan sosial,” ujar Iptu Rudiana Bachrie di dalam diskusi panel kegiatan Wawasan Kebangsaan bertema “Peran Keluarga dalam Menjaga Keutuhan Bangsa” yang digelar di GSG Tigaraksa, Kabupaten Tangerang, Banten, Rabu (13/5/2026).
Dalam kesempatan itu, beberapa poin juga disampaikan soal pentingnya ekosistem perlindungan anak, deteksi dini penyebaran paham radikal, hingga penguatan literasi digital masyarakat sebagai benteng menghadapi propaganda ekstremisme berbasis kekerasan.
Sementara itu, perwakilan Sekretaris Badan Penanggulangan Ekstremisme dan Terorisme (BPET) Majelis Ulama Indonesia (MUI) Muhammad Najih Arromadloni alias Gus Najih dalam kesempatan yang sama ikut menekankan tentang pentingnya kontra narasi dan edukasi publik, agar masyarakat tidak mudah terpengaruh oleh narasi intoleransi dan ujaran kebencian di media sosial.
“Penguatan literasi kritis dan pemahaman keagamaan yang moderat menjadi kunci utama dalam mencegah berkembangnya ekstremisme berbasis kekerasan,” ujarnya.



