DUA tahun Pemerintahan Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka berlangsung ketika dunia menghadapi situasi yang tidak stabil. Konflik geopolitik, perang tarif, gejolak energi, gangguan rantai pasok, serta ketidakpastian ekonomi global menjadi tantangan banyak negara. Dalam keadaan seperti ini, menjaga pertumbuhan sekaligus stabilitas nasional bukan pekerjaan ringan.
Prabowonomics menunjukkan arah yang sejalan dengan Pasal 33 UUD 1945. Pertumbuhan ekonomi di bawah Pemerintahan Prabowo-Gibran bukan hanya capaian makroekonomi, tetapi mulai menjadi pondasi ekonomi kerakyatan yang sesuai dengan cita-cita pendiri bangsa.
Arah kebijakan dan program yang menyentuh kebutuhan masyarakat menunjukkan Prabowonomics semakin berpihak kepada rakyat, dengan menempatkan rakyat sebagai pelaku utama, memperkuat kemandirian nasional, mengoptimalkan sumber daya bagi kepentingan masyarakat, serta memperluas manfaat pembangunan. Inilah pijakan menuju Tumbuh Merakyat, Maju Bersama.
Karena itu, pernyataan 98 Resolution Network (dimana penulis merupakan salah satu fungsionarisnya) bahwa dua tahun Pemerintahan Prabowo-Gibran berjalan positif bukan opini, namun fakta yang dapat diuji melalui indikator ekonomi, kebijakan yang dijalankan, dan dampaknya yang mulai dirasakan masyarakat.
Badan Pusat Statistik mencatat ekonomi Indonesia tumbuh 5,1 persen pada 2025. Angka ini relatif sebanding dengan Malaysia yang tumbuh 5,2 persen pada tahun yang sama. Malaysia meski tak sama tantangan yang dihadapi, serta perbedaan jumlah penduduk dan luas wilayah, namun relevan sebagai pembanding karena sama-sama negara ASEAN dengan ekonomi terbuka serta memiliki sektor komoditas, manufaktur, dan perdagangan internasional. Pada semester pertama 2026, Malaysia tumbuh 5,7 persen, sedangkan Indonesia tetap berada pada kisaran pertumbuhan 5 persen.
Perbandingan tersebut bukan untuk menentukan negara yang lebih unggul, melainkan menunjukkan bahwa negara dengan karakter ekonomi serupa sama-sama membutuhkan daya tahan domestik menghadapi tekanan global.
Dalam konteks itu, Prabowonomics mengarahkan kebijakan pada penguatan produksi nasional, kemandirian pangan, hilirisasi dan industrialisasi, sekaligus memperbesar ruang ekonomi masyarakat melalui koperasi dan UMKM (Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah).
Program Makan Bergizi Gratis, Koperasi Desa Merah Putih, pembangunan perumahan rakyat, serta berbagai agenda pemberdayaan ekonomi menjadi bagian dari upaya memperluas manfaat pembangunan. Pengelolaan sumber daya alam diarahkan agar menghasilkan nilai tambah di dalam negeri dan memperkuat ekonomi nasional.
Inilah makna “Tumbuh Merakyat” menjadi nyata, pertumbuhan harus membuka lapangan kerja, memperluas kesempatan berusaha, meningkatkan produktivitas, dan memperkuat daya beli masyarakat.
Sedangkan “Maju Bersama” berarti kemajuan tidak hanya dinikmati pusat-pusat pertumbuhan. Petani, nelayan, pelaku UMKM, pekerja, koperasi, industri nasional hingga masyarakat daerah pun memperoleh kesempatan berkembang dan menikmati hasil pembangunan.
Stabilitas nasional menjadi prasyaratnya. Prancis dapat menjadi ilustrasi dari perspektif keamanan domestik, bukan pembanding ekonomi. Ketika persoalan biaya hidup, layanan publik, ketegangan politik, dan masalah sosial membesar, demonstrasi di Prancis berkembang menjadi kerusuhan yang membutuhkan pengerahan aparat keamanan dalam jumlah besar. Fenomena dengan karakter berbeda juga terjadi di sejumlah negara lain.
Indonesia tentu tetap menghadapi persoalan dan kritik. Namun, kemampuan mengelola perbedaan secara demokratis serta menjaga agar persoalan tidak berkembang menjadi gangguan keamanan berskala luas merupakan modal penting bagi kesinambungan pembangunan.
Karena itu, penilaian 98 Resolution Network bahwa dua tahun Pemerintahan Prabowo-Gibran berjalan positif memiliki landasan yang dapat diuji, ekonomi tetap tumbuh di tengah tekanan global dan stabilitas nasional relatif terjaga.





💬 Diskusi Pembaca
0 KomentarMasuk dengan akun Google Anda untuk bergabung dalam diskusi:
Memuat diskusi...