HOLOPIS.COM, JAKARTA – Wali Kota Medan Rico Waas membuka pintu bagi sineas yang ingin memproduksi film di Kota Medan, Sumatera Utara. Ia menawarkan kemudahan perizinan, dukungan pengamanan selama proses syuting, hingga kekayaan budaya dan kuliner yang dinilai memiliki banyak potensi cerita untuk diangkat ke layar lebar.
Rico mengatakan, Medan selama ini kerap digambarkan sebagai kota dengan karakter masyarakat yang keras dalam sejumlah film. Padahal, menurut dia, kehidupan masyarakat Medan memiliki beragam sisi yang belum banyak dieksplorasi oleh industri perfilman nasional, termasuk kisah romantis dan kehidupan sosial yang beragam.
“Orang Medan tuh sangat romantis loh sebenarnya. Nah, jadi memang mukanya seram-seram kalau dilihat, hatinya tuh sangat lembut, sebenarnya. Jadi Medan itu banyak yang bisa diceritakan,” kata Rico dalam ajang Jakarta Film Summit, di Jakarta, dikutip Holopi.com, Minggu (25/10).
Ia menilai, Medan memiliki potensi untuk menjadi lokasi produksi film nasional maupun internasional. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, produksi film yang mengambil lokasi syuting di kota tersebut masih terbatas. Menurut Rico, sejumlah film justru lebih banyak membawa dialek dan cerita khas Medan tanpa melakukan pengambilan gambar langsung di kota tersebut.
“Medan ini kota terbesar di Sumatra, tapi produksi filmnya tidak terlalu banyak,” ujarnya.
Karena itu, Pemerintah Kota (Pemkot) Medan berkomitmen membantu sineas yang ingin melakukan produksi di wilayahnya. Dukungan tersebut mencakup kemudahan perizinan, pengamanan lokasi, hingga bantuan riset dan koordinasi dengan dinas terkait.
“Jangan sampai datang ke Medan syuting malah curi-curi. Nah, gitu. Izin aja sama Pemerintah Kota, bahkan kami akan bantu. Saya pastikan kami akan bantu, Satpol PP-nya akan menjaga, bahkan kalau perlu riset-riset tambahan kami akan bantu memudahkan,” kata Rico.
Ia menambahkan, Pemkot Medan juga akan membantu sineas menemukan lokasi yang sesuai dengan kebutuhan cerita. Pemerintah daerah memiliki informasi mengenai berbagai kawasan yang dapat dimanfaatkan sebagai latar film, mulai dari kawasan bersejarah hingga lingkungan dengan karakter sosial yang berbeda.
“Jadi titik-titik daerah yang menarik juga akan disuplai kepada pembuat film. Sehingga memudahkan mereka untuk, ‘Saya mau syuting di mana ya? Di mana ya mau syutingnya?’” tutur Rico.
Menurut dia, dukungan pemerintah diperlukan agar sineas dapat mengeksplorasi karakter khas Medan tanpa kesulitan mencari lokasi yang sesuai. Ia juga berharap pemerintah dan pelaku industri perfilman dapat membangun hubungan yang lebih erat.
Medan Punya Sejarah Perfilman dan Kekayaan Budaya
Rico mengatakan, Medan memiliki sejarah panjang dalam perkembangan perfilman Indonesia. Ia menyebut bioskop telah hadir di kota tersebut sejak masa awal perkembangan perfilman, bahkan sebelum 1900-an.

Ia juga menyinggung Bachtiar Siagian, sineas asal Sumatera Utara yang dikenal melalui film Turang. Film yang mengangkat kebudayaan Karo tersebut meraih penghargaan Film Terbaik dalam Festival Film Indonesia (FFI) pada 1960.
Menurut Rico, sejarah tersebut menunjukkan bahwa Medan memiliki modal budaya yang dapat dikembangkan untuk mendukung produksi film masa kini.
“Medan itu bukan tentang Batak saja, tapi ada Batak, Melayu, Jawa, Cina, India, Nias, Karo, Minang, Aceh, itu Medan itu melting pot,” kata Rico.




💬 Diskusi Pembaca
0 KomentarMasuk dengan akun Google Anda untuk bergabung dalam diskusi:
Memuat diskusi...