Angga Dwimas Sasongko Ingatkan Industri Film Terancam, Biaya Produksi Naik

0 Shares
Ukuran Teks:
21
Dengarkan:

HOLOPIS.COM, JAKARTA – Sutradara dan produser film Angga Dwimas Sasongko mengingatkan industri perfilman Indonesia berpotensi menghadapi kejenuhan dalam beberapa tahun ke depan. Kondisi ini dipicu kenaikan biaya produksi yang tidak sebanding dengan pertumbuhan jumlah layar bioskop dan kursi penonton.

Menurut Angga, meningkatnya aktivitas produksi film nasional perlu diimbangi dengan kapasitas penayangan dan perluasan pasar. Jika jumlah film terus bertambah tanpa diikuti pertumbuhan layar bioskop, persaingan untuk mendapatkan ruang tayang akan semakin ketat, sementara pembuat film membutuhkan pendapatan lebih besar untuk menutup biaya produksi.

“Kalau misalnya kita biaya produksi naik 15 persen setahun, apakah kemudian seats-nya naik juga dengan angka yang sama? Enggak. Jadi kita akan ketemu sampai titik jenuhnya nih, mungkin dua, tiga, empat, lima tahun dari sekarang,” kata Angga dalam diskusi Jakarta Film Summit, di Jakarta, dikutip Holopis.com, Minggu (25/10).

Ia menilai, kondisi tersebut perlu diantisipasi dengan memperluas jalur distribusi film, bukan hanya mengandalkan jaringan bioskop komersial di pusat perbelanjaan. Selama ini, menurut Angga, pelaku industri cenderung berfokus pada jaringan besar seperti Cinema XXI, CGV, dan Cinepolis karena memiliki potensi pasar yang menjanjikan.

“Semua orang yang punya film only put their focus on mall, XXI, CGV, Cinepolis. Semua. Karena kuenya memang menarik,” ujarnya.

Namun, ketergantungan pada jaringan bioskop utama berisiko membuat potensi penonton di luar pasar tersebut kurang tergarap. Angga pun mendorong pelaku industri dan investor untuk melihat model distribusi alternatif yang dapat menjangkau masyarakat di daerah.

Layar Tancap Jadi Alternatif Distribusi Film

Angga mencontohkan ekosistem perfilman yang dibangun Bowo Leksono melalui Cinema Lovers Community (CLC) Purbalingga dan Festival Film Purbalingga (FFP). Komunitas tersebut tidak hanya mengembangkan kegiatan produksi film, tetapi juga menghadirkan ruang pemutaran melalui festival dan layar tancap untuk mendekatkan film kepada masyarakat yang memiliki keterbatasan akses ke bioskop.

Layar Tancap Holopis
Warga Desa Kedungenda, Kecamatan Kemangkon, Purbalingga menonton film di layar tancap. [Foto: Dok. Festival Film Purbalingga]

Menurut Angga, inisiatif seperti CLC Purbalingga menunjukkan bahwa distribusi film dapat dikembangkan melalui jalur di luar jaringan bioskop komersial. Model ini sekaligus membuka peluang untuk membangun pasar penonton dan ekosistem perfilman di daerah.

“Bagaimana kalau misalnya teman-teman di jaringan bioskop itu juga lihat potensi pasar lain yang enggak tumbuh, ekonominya juga lesu, enggak berani buat tumbuh? Berarti harus dicari model distribusi lain. Dan komunitas seperti Mas Bowo ini yang akhirnya berdikari, tumbuh, bisa jadi another opportunity,” ujarnya.

Ia menilai, potensi tersebut perlu didukung oleh investor dan lembaga keuangan agar jalur distribusi alternatif dapat berkembang sebagai bagian dari ekosistem bisnis perfilman. Pendanaan tidak hanya dibutuhkan untuk memproduksi film, tetapi juga untuk membangun fasilitas yang memungkinkan karya-karya tersebut menjangkau penonton.

“Dan kita perlu ketemu dengan orang-orang, perbankan yang juga bisa bicara tentang, ‘Bisa enggak datang ke Universitas X, kita bikin lab film school?’ Terus apa datang ke tempat pembuatan layar tancap, ‘Yuk kita bikin’,” tutur Angga.

Menurut dia, pengembangan jalur distribusi tersebut tidak selalu membutuhkan investasi sebesar pembangunan jaringan bioskop komersial. Sebagian pendanaan yang selama ini berfokus pada pasar utama dapat dialihkan untuk memperkuat ekosistem perfilman di luar jaringan tersebut.

“Padahal mungkin dengan 20 persen dari total atau 10 persen dari total itu akan banyak membantu industrinya, ekosistem yang bekerja di luar ekosistem utama itu,” katanya.

- Advertisement -
Google News

Jadikan Holopis.com sebagai sumber utama pilihanmu di Google untuk mendapatkan berita terbaru dan informasi aktual.

Tambahkan Sekarang
Vhina Noviyanti
Eagle Eye
Tim Penulis & Editor
Vhina Noviyanti, Eagle Eye
0 Shares

💬 Diskusi Pembaca

0 Komentar

Masuk dengan akun Google Anda untuk bergabung dalam diskusi:

Memuat diskusi...

Cloud Startup - Bikin Website Kamu Makin Ngebut
Holopis UMKMIklan: Holopis UMKM
DKI JAKARTA
☀️ 🌙
00:00:00
Memuat Tanggal...
MEMUAT
-
---- H
MEMUAT 00:00
-- : -- : --
Waktu Dhuha --:-- — --:--
YANG BARU