Belajar dari Kaum Nabi Luth

Lukman Ihsanuddin
Lukman Ihsanuddin
Dosen Fakultas Dakwah dan Komunikasi Islam UIN Sunan Kudus
Total Opini: 4
Total Views: 5,909
Seluruh tulisan ini menjadi tanggung jawab penulis. Sebagian atau keseluruhan isi tidak mewakili sikap redaksi.
0 Shares

Ramainya perdebatan mengenai keberadaan dan tuntutan pengakuan kelompok LGBT di berbagai ruang publik menghadirkan beragam respons di tengah masyarakat. Ada yang melihatnya sebagai bagian dari hak individu yang harus dihormati, ada pula yang memandangnya sebagai persoalan moral yang bertentangan dengan nilai agama. Di tengah perdebatan itu, umat Islam tentu teringat pada kisah kaum Nabi Luth a.s.

Sayangnya, kisah tersebut sering kali dipahami secara sederhana, seolah-olah hanya berbicara mengenai penyimpangan seksual semata. Padahal, jika dicermati lebih dalam, Al-Qur’an menghadirkan pelajaran yang jauh lebih luas dan relevan bagi kehidupan manusia sepanjang zaman.

- Advertisement -Hosting Terbaik

Nabi Luth a.s. diutus kepada penduduk Sodom dan wilayah sekitarnya untuk mengajak mereka mentauhidkan Allah serta meninggalkan berbagai kemungkaran yang mereka lakukan. Salah satu perbuatan yang paling menonjol adalah melampiaskan syahwat kepada sesama jenis. Menurut Ibnu Katsir, perilaku tersebut merupakan penyimpangan yang belum pernah dikenal oleh umat manusia sebelumnya dan dipelopori oleh kaum Sodom.

Namun, persoalan besar kaum Nabi Luth bukan hanya terletak pada jenis maksiat yang mereka lakukan. Yang lebih mengkhawatirkan adalah cara mereka memandang kemaksiatan itu sendiri.

- Advertisement -

Al-Qur’an mengisahkan bahwa Nabi Luth telah berulang kali mengingatkan kaumnya dan menunjukkan jalan yang dibenarkan. Akan tetapi, semua nasihat itu ditolak. Mereka bahkan secara terang-terangan menyatakan keinginan mereka dan tidak lagi melihat perilaku tersebut sebagai sesuatu yang salah.

Imam al-Zamakhsyari menjelaskan bahwa mereka telah begitu terbiasa melakukan perbuatan keji sehingga rasa malu dan anggapan buruk terhadapnya hampir hilang sama sekali. Kemaksiatan yang dilakukan berulang-ulang akhirnya berubah menjadi kebiasaan, lalu diterima sebagai sesuatu yang normal.

Di sinilah letak peringatan penting dari kisah kaum Nabi Luth. Kerusakan suatu masyarakat tidak selalu bermula dari besarnya suatu dosa, tetapi sering kali dimulai ketika dosa itu tidak lagi dianggap sebagai kesalahan. Batas antara yang benar dan yang keliru menjadi kabur, sementara hati kehilangan kepekaannya terhadap nilai-nilai moral.

Potret kedua yang tidak kalah penting adalah sikap mereka terhadap orang-orang yang menyeru kepada kebaikan. Dalam Surah al-A’raf ayat 82 disebutkan bahwa jawaban kaum Nabi Luth terhadap dakwah beliau hanyalah satu: usirlah mereka dari negeri kalian karena mereka adalah orang-orang yang ingin menyucikan diri.

Menurut Ibnu Katsir, kaum tersebut bukan sekadar menolak nasihat, tetapi juga berkeinginan mengasingkan Nabi Luth dan para pengikutnya. Orang-orang yang mengajak kepada kebaikan justru dipandang sebagai ancaman bagi kenyamanan mereka.

Bukankah fenomena seperti ini juga dapat ditemukan pada zaman sekarang? Tidak jarang seseorang yang mengingatkan tentang nilai agama dan moral justru dicap sok suci, kolot, atau tidak toleran. Nasihat sering dipersepsikan sebagai serangan, sementara kritik terhadap perilaku tertentu dianggap sebagai bentuk permusuhan.

Padahal, setiap masyarakat membutuhkan orang-orang yang berani mengingatkan ketika terjadi penyimpangan. Sebab, ketika tidak ada lagi ruang bagi nasihat dan amar makruf, sesungguhnya masyarakat sedang kehilangan salah satu mekanisme terpenting untuk menjaga dirinya dari kerusakan.

Kisah kaum Nabi Luth pada akhirnya bukan sekadar cerita tentang sebuah kaum yang dibinasakan. Ia adalah cermin bagi setiap generasi. Bahaya terbesar bukan hanya ketika kemaksiatan dilakukan, melainkan ketika kemaksiatan itu diterima sebagai kewajaran dan orang-orang yang mengajak kepada kebaikan justru disingkirkan.

Al-Qur’an menghadirkan kisah-kisah para nabi bukan sekadar untuk dikenang, melainkan untuk direnungkan. Sebab, sejarah sering kali tidak berulang dalam bentuk yang sama, tetapi menghadirkan gejala-gejala yang serupa. Dan di situlah manusia dituntut untuk belajar.

- Advertisement -
0 Shares

Berita Terbaru

Opini Lainnya