Selat Hormuz Lumpuh, Asia Tenggara Terancam Krisis Energi dan Pangan Besar

0 Shares

HOLOPIS.COM, JAKARTA – Gencatan senjata antara Amerika Serikat (AS) dan Iran yang diumumkan pada 7 April 2026 belum menenangkan dunia. Meski pertempuran berhenti sementara dengan damai semu, dampak dari konflik AS vs Iran mengguncang stabilitas energi global termasuk menempatkan Kawasan Asia Tenggara dalam posisi rawan krisis.

Perang dimulai pada 28 Februari saat AS dan Israel melancarkan serangan udara besar-besaran ke Iran melalui operasi militer bernama Operation Epic Fury. Serangan itu menargetkan fasilitas militer, infrastruktur strategis, hingga program nuklir Iran.

Teheran kemudian membalas dengan serangan rudal dan drone ke berbagai target milik AS dan sekutunya di Timur Tengah, termasuk fasilitas energi di Qatar, Uni Emirat Arab, Kuwait, Bahrain, Arab Saudi, dan Yordania.

Situasi makin memburuk ketika Iran mengancam kapal-kapal yang melintas di Selat Hormuz, jalur laut vital yang menjadi penghubung utama distribusi energi dunia.

Ancaman tersebut secara efektif mengganggu salah satu titik strategis paling penting di dunia dan menghambat hampir 15 persen pasokan minyak global.

Mengutip dari fulcrum, Rabu, (13/5/2026), krisis itu langsung memicu lonjakan harga energi internasional. Harga minyak mentah melonjak dari sekitar USD70 menjadi lebih dari USD100 per barel. Sementara harga gas alam berjangka meningkat hingga 20 persen.

- Advertisement -

Meski harga minyak sedikit mereda setelah pengumuman gencatan senjata, nilainya masih bertahan di level tinggi dan terus membebani negara-negara pengimpor energi.

Asia Tenggara merupakan salah satu kawasan paling terdampak. Kawasan Asia Tenggara masih sangat bergantung pada minyak dan gas dari Timur Tengah.

Filipina disebut hampir sepenuhnya bergantung pada pasokan minyak mentah dari kawasan Teluk. Sementara Indonesia, Vietnam, Thailand, dan Singapura merupakan importir utama gas alam cair (LNG) dari Qatar.

Kondisi makin rumit setelah Iran menyerang kompleks LNG Ras Laffan di Qatar pada Maret lalu. Fasilitas tersebut merupakan pusat ekspor LNG terbesar di dunia.

Akibat serangan itu, Qatar terpaksa memangkas produksi LNG hingga 17 persen dan diperkirakan membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk pemulihan penuh.

Dampaknya langsung terasa di Singapura yang lebih dari 95 persen kebutuhan listriknya bergantung pada LNG. Pun, hampir 60 persen pasokan berasal dari Qatar. Tarif listrik di negara itu pun ikut melonjak.

Tak hanya listrik, harga bahan bakar di berbagai negara Asia Tenggara juga naik drastis.

Di Filipina, Vietnam, Kamboja, dan Myanmar, harga solar dan bensin disebut meningkat hingga 50 persen. Harga bahan bakar jet juga melonjak sehingga memukul industri penerbangan dan pariwisata kawasan.

Thailand jadi salah satu negara yang paling merasakan efeknya. Kedatangan wisatawan pada Maret turun hingga 50 persen dibanding bulan sebelumnya.

Bahkan, jika konflik berlangsung lebih dari enam bulan, Thailand diperkirakan kehilangan tiga juta wisatawan dengan potensi kerugian mencapai 4,5 miliar dolar AS.

Menghadapi ancaman tersebut, pemerintah di Asia Tenggara mulai mengambil langkah darurat untuk menghemat energi.

Presiden Filipina Ferdinand Marcos Jr. menetapkan status darurat energi nasional untuk menekan lonjakan harga energi.
Di Indonesia, Malaysia, Filipina, dan Myanmar, pegawai negeri diminta bekerja dari rumah satu hari setiap pekan guna mengurangi konsumsi bahan bakar.

Laos memangkas hari sekolah dari lima hari menjadi tiga hari. Vietnam mengurangi sejumlah penerbangan domestik demi menghemat bahan bakar jet, sedangkan Myanmar menghentikan penerbangan sepenuhnya.

Myanmar dan Indonesia juga mulai menerapkan penjatahan bahan bakar untuk kendaraan pribadi.

Sementara itu, pemerintah Indonesia tetap mempertahankan subsidi BBM hingga akhir tahun untuk mencegah gejolak sosial. Namun di sisi lain, pemerintah juga mulai mengurangi sejumlah program pengeluaran.

Malaysia turut mengambil langkah penghematan dengan memangkas kuota bahan bakar bersubsidi bulanan dari 300 liter menjadi 200 liter.

Selain penghematan, negara-negara Asia Tenggara kini berlomba mencari sumber energi alternatif dari luar Timur Tengah, termasuk dari AS, Rusia, Nigeria, hingga Brasil.

Meski gencatan senjata masih berlangsung, banyak pihak menilai ancaman krisis energi belum benar-benar berakhir. Jika konflik Iran dan AS kembali memanas, Asia Tenggara berpotensi menghadapi tekanan ekonomi yang jauh lebih besar dalam beberapa bulan ke depan.

Cloud Startup - Bikin Website Kamu Makin Ngebut
Ikuti kami di Google News lalu klik ikon bintang. Atau kamu juga bisa follow WhatsaApp Holopis.com Channel untuk dapat update 10 berita pilihan redaksi dan breaking news.
Dani Yoga
Dani Yoga
Tim Redaksi :

Berita Lainnya

YANG BARU