HOLOPIS.COM, JAKARTA – Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baghaei meminta pemerintah Amerika Serikat (AS) menghentikan berbagai interpretasi yang dinilai bertentangan dengan nota kesepahaman (memorandum of understanding atau MoU) perdamaian yang baru-baru ini ditandatangani kedua negara.
Pernyataan itu disampaikan Baghaei melalui unggahan di platform media sosial X pada Rabu (24/6). Ia juga mengecam pernyataan-pernyataan yang saling bertentangan dari para pejabat AS terkait isi dan ketentuan dalam MoU tersebut.
Dikutip Holopis.com, Kamis (25/6), menurut Baghaei, pernyataan yang mengklaim perang telah berakhir tidak akan mampu mengurangi akumulasi ketidakpercayaan masyarakat Iran terhadap Amerika Serikat.
Ia menilai pernyataan semacam itu justru mengingatkan publik Iran pada berbagai janji yang pernah dilanggar oleh Washington di masa lalu.
Baghaei juga menegaskan bahwa pemerintah AS selama ini tidak pernah menunjukkan ketulusan dalam sikapnya terhadap Iran. Meski demikian, Iran tetap memilih menempuh jalur diplomasi dengan itikad baik dan bersedia menandatangani MoU tersebut.
Ia menambahkan, rakyat Iran memahami bahwa permusuhan dari pihak yang dianggap sebagai “musuh” tidak akan otomatis berakhir hanya karena adanya penandatanganan MoU, mengingat pengalaman yang mereka alami selama lima dekade terakhir, terutama perkembangan yang terjadi dalam 18 bulan terakhir.
Pada 18 Juni lalu, Iran dan AS menandatangani MoU yang bertujuan mengakhiri konflik di berbagai kawasan, termasuk di Lebanon.
Berdasarkan kesepakatan tersebut, kedua negara sepakat menjalani proses negosiasi selama 60 hari menuju perjanjian final yang berfokus pada program nuklir Iran serta pencabutan sanksi terhadap negara tersebut.

