JAKARTA, Holopis.com – Usai dua laga fase grup, lima negara dipastikan tersingkir dari Piala Dunia 2026. Siapa saja tim yang harus angkat koper lebih cepat?
Piala Dunia 2026 mulai menelan korban. Baru dua pertandingan berjalan di fase grup, tetapi persaingan sudah memaksa sejumlah peserta mengubur mimpi lebih cepat.
Di saat beberapa negara mulai mengamankan tiket ke babak 32 besar, ada tim-tim yang justru harus menerima kenyataan pahit dimana laga terakhir nanti tak lagi menentukan apa-apa selain harga diri.
Situasi itu muncul setelah seluruh kontestan menuntaskan matchday kedua di fase grup.
Persaingan yang ketat membuat margin kesalahan nyaris tak ada.
Dua hasil buruk beruntun cukup untuk menjatuhkan sebuah tim ke dasar klasemen, lalu menutup seluruh jalan menuju fase knockout sebelum laga penutup dimainkan.
Artinya, pertandingan terakhir fase grup tak akan lagi menjadi panggung perebutan tiket bagi semua peserta.
Bagi sebagian tim, laga pamungkas justru berubah menjadi partai perpisahan yaitu kesempatan terakhir untuk menghindari pulang tanpa poin, menjaga martabat, sekaligus menutup kiprah di turnamen dengan kesan yang tak terlalu pahit.
Setidaknya, hingga Rabu (24/6/2026) malam, sudah ada lima tim yang dipastikan tersingkir dari Piala Dunia 2026.
Mereka gagal meraih poin dari dua laga awal, terbenam di dasar klasemen grup masing-masing, dan tak mungkin lagi mengejar para pesaing yang masih bertarung memperebutkan tiket ke babak 32 besar.
Tim pertama yang harus menerima kenyataan pahit itu datang dari Grup C, yakni Haiti.
Wakil Karibia tersebut tak mampu bertahan di tengah ketatnya persaingan grup yang dihuni Brasil, Maroko, dan Skotlandia.
Haiti lebih dulu kalah tipis 0-1 dari Skotlandia pada laga pembuka, sebelum kembali tumbang 0-3 saat menghadapi Brasil.
Dua kekalahan itu membuat Haiti terkunci di dasar klasemen tanpa poin.
Harapan untuk bangkit pun resmi tertutup sebelum laga terakhir dimainkan.
Padahal, mereka masih harus menghadapi Maroko yang juga tengah memburu tiket ke fase gugur.
Situasi itu membuat laga terakhir Haiti berpotensi menjadi penutup yang berat, sekaligus ujian terakhir untuk menghindari pulang tanpa angka.
Korban berikutnya datang dari Grup D, yakni Turki.
Datang dengan ambisi memberi kejutan, Turki justru gagal menunjukkan tajinya.
Mereka dibungkam Australia 0-2 pada laga pertama, lalu kembali kalah 0-1 dari Paraguay di pertandingan kedua.
Hasil itu cukup untuk menutup peluang Turki melangkah lebih jauh.
Dengan nol poin dari dua pertandingan, Turki tak mungkin lagi mengejar Amerika Serikat yang sudah mengunci puncak klasemen, maupun menyalip Australia dan Paraguay yang masih menjaga asa lolos.
Alhasil, laga terakhir melawan tuan rumah Amerika Serikat tak lebih dari kesempatan untuk menebus kegagalan.
Jika mampu mencuri poin, Turki setidaknya bisa pulang dengan sedikit hiburan setelah tampil melempem di dua laga awal.
Nasib lebih pahit dialami Tunisia di Grup F.
Bukan hanya kalah dua kali, Tunisia juga hancur dari sisi pertahanan.
Mereka dihajar Swedia dengan skor telak 1-5 pada pertandingan pertama, lalu kembali tak berdaya saat dibantai Jepang 0-4 di laga kedua.
Dalam dua pertandingan saja, Tunisia sudah kebobolan sembilan gol, catatan yang menunjukkan betapa rapuhnya mereka di turnamen kali ini.
Tak mengherankan jika Tunisia akhirnya jadi salah satu tim pertama yang dipastikan tersingkir.
Dengan nol poin, mereka sudah tak mungkin lagi mengejar Belanda, Jepang, maupun Swedia yang masih terlibat persaingan ketat.
Laga terakhir melawan Belanda pun akan menjadi ujian berat lain, sebab tim berjuluk The Orange itu juga masih membutuhkan kemenangan untuk mengunci tiket ke fase knockout.
Sementara itu, Yordania juga harus mengakhiri petualangannya lebih cepat di Grup J.
Meski sempat memberi perlawanan, Yordania tetap tak mampu menghindari dua kekalahan beruntun.
Mereka kalah 1-3 dari Austria pada laga pembuka, lalu kembali tumbang 1-2 dari Aljazair.
Hasil tersebut cukup untuk membuat Yordania tersungkur di dasar klasemen tanpa poin.
Masalahnya, lawan yang menunggu Yordania di laga terakhir bukan tim sembarangan.
Mereka harus menghadapi Argentina, sang juara bertahan yang tampil sangat meyakinkan sejak awal turnamen.
Tim asuhan Lionel Scaloni itu sudah memastikan tiket lolos, menyapu bersih dua kemenangan, dan bahkan belum kebobolan satu gol pun.
Di atas kertas, duel itu terlihat timpang. Namun bagi Yordania, laga tersebut tetap menjadi panggung terakhir untuk setidaknya meninggalkan kesan sebelum pulang.
Tim kelima yang dipastikan angkat koper adalah Panama dari Grup L.
Berbeda dengan Tunisia yang tumbang karena kebobolan banyak gol, Panama justru tersingkir lewat cara yang lebih menyakitkan yaitu kalah tipis dalam dua laga, tetapi tetap tak mendapat satu poin pun.
Mereka lebih dulu menyerah 0-1 dari Ghana, lalu kembali kalah 0-1 saat berhadapan dengan Kroasia.
Secara permainan, Panama sebenarnya tak tampil terlalu buruk.
Mereka mampu menjaga pertahanan tetap rapat dan membuat lawan kesulitan mencetak banyak gol.
Namun, ketatnya persaingan di grup membuat kekalahan tipis tetap berujung fatal.
Tanpa poin dari dua laga, Panama dipastikan tak bisa mengejar Inggris, Ghana, maupun Kroasia yang masih terlibat persaingan menuju fase gugur.
Kini, Panama hanya memiliki satu kesempatan tersisa saat menghadapi Inggris di laga terakhir.
Meski berat, pertandingan itu setidaknya bisa menjadi momen pembuktian bahwa mereka tak sekadar numpang lewat di Piala Dunia 2026.
Jika mampu mencuri poin dari tim kuat seperti Inggris, Panama bisa menutup turnamen dengan kepala sedikit lebih tegak.
Tersingkirnya lima tim ini menegaskan satu hal, Piala Dunia 2026 tak memberi ruang untuk start buruk.
Dua kekalahan beruntun sudah cukup untuk mengakhiri mimpi, bahkan sebelum fase grup benar-benar rampung.
Di turnamen dengan persaingan setajam ini, setiap laga menjadi penentu, setiap gol bisa mengubah nasib, dan setiap kesalahan berpotensi berujung pada kepulangan lebih cepat.
Meski demikian, fase grup belum kehilangan dramanya.
Justru sebaliknya, laga terakhir akan semakin panas.
Bagi tim-tim yang sudah tersingkir, partai pamungkas menjadi kesempatan terakhir menghindari pulang tanpa poin.
Sementara bagi tim-tim yang masih bertarung, pertandingan penutup akan menjadi duel hidup-mati demi mengamankan satu tempat di babak 32 besar.
Lima nama itu sudah dipastikan tamat di fase grup.
Kini, perhatian beralih ke laga-laga terakhir, siapa yang akan menyusul pulang, dan siapa yang mampu menjaga mimpi tetap hidup di panggung sepak bola terbesar dunia.

