JAKARTA – Kepribadian manusia selama ini kerap dibagi menjadi dua kategori besar: introvert dan ekstrovert. Namun, pandangan itu kini mendapat warna baru setelah seorang psikiater asal Amerika Serikat, Rami Kaminski, memperkenalkan istilah “otrovert” untuk menggambarkan tipe kepribadian yang berbeda dari keduanya.
Kaminski mengungkapkan, otrovert adalah individu yang mampu bersosialisasi dan tampil ramah, tetapi tidak benar-benar merasa menjadi bagian dari kelompok mana pun.
Konsep ini ia temukan melalui pengamatan terhadap dirinya sendiri, sejumlah pasien, serta tokoh sejarah seperti Frida Kahlo, Franz Kafka, Albert Einstein, hingga Virginia Woolf.
Otrovert: Ramah, Tapi Tidak Terikat Kelompok
Berbeda dengan introvert yang cenderung menyukai kesendirian, dan ekstrovert yang senang berada di tengah keramaian, otrovert justru berada di tengah-tengah. Mereka bisa berinteraksi dengan banyak orang dan diterima dalam berbagai lingkaran sosial, tetapi tidak merasa terhubung dengan identitas kolektif atau tradisi kelompok tertentu.
“Seorang otrovert bisa sangat ramah dan memiliki hubungan yang dalam dengan orang lain. Hanya saja, mereka tidak terikat pada sebuah kelompok atau identitas sosial bersama,” jelas Kaminski seperti dikutip oleh Holopis.com, Selasa (23/9).
Ia menambahkan, orang dengan tipe kepribadian ini biasanya tumbuh dengan perasaan berbeda sejak kecil. Meski populer atau mudah diterima, mereka sering merasa seperti orang luar ketika berada dalam komunitas besar. Kondisi ini membuat mereka lebih sering mencari ruang sendiri dan cenderung berpikir di luar arus utama masyarakat.
Lebih Mandiri dan Imajinatif
Dalam situasi sosial, Kaminski menggambarkan otrovert sebagai sosok yang mungkin memilih berbincang serius dengan satu orang di sudut ruangan, dibanding menjadi pusat perhatian yang berkeliling dari satu tamu ke tamu lainnya.
Meski demikian, mereka bukan penyendiri sepenuhnya, karena tetap bisa dekat dan membangun kedekatan personal dengan individu lain.
Karakter ini, menurut Kaminski, justru memberi keuntungan tersendiri. Otrovert cenderung menjadi pemikir bebas, lebih mandiri, serta imajinatif. Mereka tidak terlalu peduli dengan kesan orang lain atau rasa takut akan penolakan.
“Otrovert tidak akan kehilangan apa pun karena mereka tidak merasa harus menyesuaikan diri dengan aturan sosial yang berlaku,” ujarnya.
Fenomena kepribadian baru ini membuat pandangan tentang psikologi manusia semakin kaya. Jika introvert dan ekstrovert dianggap sebagai dua kutub berbeda, otrovert bisa dipandang sebagai jembatan yang unik, menggabungkan kemampuan sosial dengan kemandirian berpikir, tanpa harus sepenuhnya terikat oleh kelompok.


