HOLOPIS.COM, JAKARTA – Tiga bulan tak melihat matahari akibat kabut asap karhutla, petani Kalbar mengungkap kisah memilukan.
Bayangkan selama tiga bulan langit terus diselimuti kabut asap hingga matahari nyaris tak terlihat.
Tak hanya mengganggu aktivitas sehari-hari, bencana ini juga menghantam kehidupan petani, mulai dari ancaman kesehatan hingga gagal panen dan hilangnya sumber penghasilan.
Situasi mencekam itulah yang dialami Elly Prianto, petani di Desa Limbung, Kalimantan Barat, akibat kebakaran hutan dan lahan yang melanda wilayahnya.
Pengalaman tersebut menggambarkan beratnya dampak karhutla bagi masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan gambut.
Bagi petani, persoalannya bukan sekadar udara yang dipenuhi asap, tetapi juga lahan pertanian yang rentan rusak dan penghasilan keluarga yang terancam.
“Kami lama enggak lihat matahari, tiga bulan kabut asap tebal,” ujar Elly dalam wawancara daring dengan DW, sebagaimana dikutip Holopis.com, Jumat (16/10/2026).
Kondisi ini menjadi peringatan serius mengenai dampak kebakaran hutan dan lahan yang belum tertangani secara optimal.
Hujan yang sempat turun pada awal Oktober belum serta-merta menghilangkan ancaman kabut asap.
Menurut laporan tersebut, kualitas udara di kawasan yang terdampak bahkan masih berada dalam kategori berbahaya.
Di tengah kondisi tersebut, warga harus menghadapi persoalan lain yang tak kalah berat, yakni terganggunya kegiatan pertanian dan semakin terbatasnya sumber pendapatan.
Selama sekitar satu dekade, Elly aktif bersama kelompok Masyarakat Peduli Api untuk menjaga ekosistem gambut.
Kegiatan mereka mencakup pembasahan lahan, pemeliharaan infrastruktur, hingga membantu mencegah kebakaran meluas.



