HOLOPIS.COM, JAKARTA – Ketua Komisi XIII DPR RI, Willy Aditya, menilai film memiliki kekuatan untuk membentuk cara pandang masyarakat terhadap suatu isu. Menurutnya, film dapat menjadi sarana untuk membangun kesadaran publik, termasuk mengenai kekerasan terhadap perempuan dan perlindungan kelompok rentan.
Pernyataan tersebut disampaikan Willy dalam peringatan HUT ke-28 Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan (Komnas Perempuan) di Jakarta, Kamis (15/10). Ia mendorong pemanfaatan film dan serial pendek untuk menyampaikan pesan edukasi sekaligus memperkuat literasi masyarakat mengenai berbagai persoalan sosial.
“Bagaimana kemudian mengenyahkan masyarakat yang amnesia ini, tentu kita butuh literasi. Apa senjata yang paling ampuh? Yaitu film. Film lah yang membangun instrumen hegemoni,” kata Willy dalam sambutannya, dikutip Holopis.com, Jumat (16/10).
Willy menjelaskan, film tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga dapat memengaruhi narasi yang berkembang di tengah masyarakat. Melalui cerita dan karakter yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, film dapat membantu publik memahami persoalan yang mungkin sebelumnya kurang mendapat perhatian.
Ia mencontohkan film Filosofi Kopi yang turut mendorong perhatian masyarakat terhadap budaya minum kopi. Sementara itu, film Ada Apa dengan Cinta? kembali membawa puisi dan karya sastra ke dalam percakapan publik, termasuk melalui tokoh Rangga yang menggemari puisi.
“Kalau kita lihat bagaimana tren kopi di Indonesia luar biasa itu salah satu trigger-nya adalah film Filosofi Kopi. Kalau kita lihat bagaimana orang kembali mencintai sastra, orang mungkin sudah lupa dengan Chairil Anwar, tapi ketika ada film Ada Apa Dengan Cinta?, ketika Rangga hanya membaca puisi dan Cinta hanya membaca puisi, orang jadi ingat,” jelas Willy.
Menurutnya, contoh tersebut menunjukkan bahwa film memiliki potensi untuk memengaruhi minat, kebiasaan, dan cara pandang masyarakat. Kekuatan serupa, kata ia, dapat dimanfaatkan untuk membangun kesadaran mengenai kekerasan terhadap perempuan dan persoalan perlindungan hak asasi manusia.
Dorong Film tentang Kekerasan Seksual hingga Perdagangan Orang
Willy menilai film dan serial yang tersedia di berbagai platform perlu lebih beragam, tidak hanya didominasi genre horor. Ia mendorong sineas Indonesia memperbanyak karya yang mengangkat isu sosial, seperti kekerasan seksual, perlindungan pekerja rumah tangga, perdagangan orang, dan penyelundupan manusia.
“Jadi untuk kekerasan seksual, perlindungan pekerja rumah tangga, untuk memerangi perdagangan orang dan penyelundupan manusia, kita butuh kolaborasi. Kalau enggak, isinya film-film platform kita tuh isinya horor, ya sedikit-sedikit menakutkan, teror religius lah, kan?” ujar Willy.
Menurut Willy, film dan serial dari berbagai platform dapat menjadi sarana untuk mengangkat isu kekerasan seksual secara kuat dan menarik. Ia menilai karya produksi luar negeri telah menunjukkan bagaimana persoalan tersebut dapat diangkat melalui cerita yang menggugah perhatian penonton.
“Kita lihat banyak platform itu, kalau yang produk luar tentang kekerasan seksualnya hebat-hebat,” kata Willy.
Untuk mewujudkan hal tersebut, Willy mengajak lembaga HAM dan lembaga perlindungan terkait bekerja sama dengan sineas serta kalangan anak muda dalam menghasilkan karya yang memiliki nilai edukasi.
“Saya minta nanti Komnas Perempuan, KPAI, Komisi Disabilitas, Komnas HAM, ayo kita collab! DPR insyaallah kalau ini sudah jadi satker sendiri, anggaran sendiri, kita ketok agak gede untuk literasinya,” pungkasnya.
Ia menilai kolaborasi tersebut dapat mempertemukan pengalaman lembaga yang menangani persoalan hak asasi manusia dengan kreativitas para pembuat film. Dengan begitu, isu perlindungan perempuan dan kelompok rentan dapat dikemas melalui cerita yang menarik sekaligus memberikan pemahaman kepada penonton.



