Dalam bagian lain tulisannya, Edy menilai isu pergantian tersebut telah menggeser perhatian media dan masyarakat dari dugaan penyadapan ilegal menuju spekulasi politik mengenai posisi Wakil Presiden.
Ia menyebut pergeseran perhatian itu tidak akan menghilangkan substansi perkara yang sedang ditangani aparat penegak hukum.
“Politik memang penuh tipu daya. Tapi tipu daya yang terlalu kentara justru bisa menjadi bumerang,” tulis Edy.
Edy kemudian melontarkan tudingan bahwa isu pengalihan perhatian tersebut berkaitan dengan Joko Widodo dan kelompok politik yang ia sebut sebagai “Geng Solo”.
“Rakyat yang sudah cerdas pun langsung bisa membaca siapa di balik operasi norak ini: Jokowi dan Geng Solonya!” tulis Edy.
Ia juga menyampaikan dugaan keterlibatan Jokowi dalam skandal penyadapan tersebut. Namun, dalam tulisannya, Edy tidak menyertakan bukti yang dapat mengonfirmasi tudingan tersebut.
“Sama seperti siapa pemberi perintah penyadapan presiden kepada Listyo Sigit. Pernyataan resmi pemerintah memang belum ada. Tapi bahwa Jokowi di belakang skandal ini sudah menjadi common sense,” lanjutnya.
Di akhir tulisannya, Edy mengutip Surah Ali Imran ayat 54 untuk menggambarkan pandangannya mengenai dugaan rekayasa politik dan pengalihan isu tersebut.
Edy menilai upaya menggeser perhatian publik justru tidak memberikan keuntungan berarti bagi pihak yang ditudingnya. Sebaliknya, ia berpendapat masyarakat semakin memperhatikan persoalan yang berkembang di balik kasus penyadapan ilegal.
“Jadi, apa benefit yang mereka petik? Nyaris tak ada. Yang terjadi justru rakyat makin paham, bahwa mereka benar-benar kelompok penghalal segala cara untuk mencapai tujuan. Dan itu berarti, mereka adalah musuh bersama,” pungkasnya.




💬 Diskusi Pembaca
0 KomentarMasuk dengan akun Google Anda untuk bergabung dalam diskusi:
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan masukan!