HOLOPIS.COM, JAKARTA— Operasi pemadaman kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di sejumlah wilayah Kalimantan masih terkendala jarak pandang rendah. Kondisi tersebut membuat BNPB membatasi operasi udara karena visibility di beberapa lokasi bahkan berada di bawah 1.000 meter.
PLT Kepala Pusdatin dan Komunitas Kebencanaan BNPB Berton Panjaitan mengatakan, kondisi tersebut menjadi salah satu hambatan utama dalam operasi udara atau jarak pandang yang sangat rendah di bawah 1.000 meter jarak pandang dalam pengerahan helikopter dan alutsista udara untuk memadamkan titik api.
“Di Kalimantan Barat tidak ada operasi udara mengingat visibility atau jarak pandang yang sangat rendah di sana, ada sampai di bawah 1.000 meter jarak pandangnya, sehingga kita tidak berani untuk mengoperasikan alutsista yang ada di sana,” kata Berton dalam konferensi pers Pemerintah dan BNPB, Selasa (22/9).
Berton menjelaskan, selain jarak pandang, kondisi cuaca juga menghambat upaya pemadaman. Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) tidak dapat dilakukan secara efektif ketika tidak tersedia bibit awan, sementara angin kencang dapat mempercepat penyebaran api di tengah kondisi vegetasi yang kering.
“Ada beberapa hambatan yang kita temukan. Kendala cuaca, menentukan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC). Ketika tidak ada bibit-bibit awan di atmosfer, tentu tidak efektif menyebarkan bibit garam di angkasa. Selain itu angin yang terlalu kencang mempercepat laju penyebaran api,” kata Berton.
Berton mengatakan, diketahui adanya karakteristik lahan gambut juga membuat proses pemadaman lebih sulit. Api yang terlihat padam di permukaan masih dapat menyala di bawah tanah sehingga membutuhkan penanganan hingga ke lapisan dalam.
“Ketika kelihatan di permukaan api padam, sesungguhnya di bawah bisa 2 sampai 4-5 meter di bawah itu ada apinya,” ujarnya.
Untuk itu, Berton juga mengatakan dengan adanya kondisi tersebut, BNPB kini memperkuat pemadaman melalui operasi darat, terutama di wilayah yang tidak memungkinkan dilakukan operasi udara.
“Saat ini lebih fokus pada darat terutama ketika visibility tidak ada dan bibit awan di atmosfer tidak ada,” kata Berton.




💬 Diskusi Pembaca
0 KomentarMasuk dengan akun Google Anda untuk bergabung dalam diskusi:
Memuat diskusi...