“Teknologi modifikasi cuaca dengan berbagai teknologi terkini itu saya kira bisa kita lakukan,” kata Arif.
Metode Tepung Ikut Diuji
Yang cukup menarik, BRIN juga sedang mengkaji metode pemadaman api menggunakan tepung.
Metode tersebut sebelumnya telah dipraktikkan di tengah masyarakat. Namun, BRIN tidak ingin langsung menyimpulkan apakah cara tersebut efektif atau tidak.
Lembaga riset itu akan melakukan pengujian secara ilmiah untuk mengetahui efektivitasnya sekaligus melihat kemungkinan penerapan dalam skala lebih besar.
“Tugas BRIN itu memang segala praktik yang ada di masyarakat, yang sudah dipraktikkan, kita kaji secara saintifik, benar apa tidak,” ujarnya.
Menurut Arif, inovasi yang muncul dari masyarakat tidak otomatis ditolak. Selama memiliki dasar yang dapat diuji, metode tersebut bisa diteliti lebih lanjut.
“Jadi, teknologi-teknologi yang muncul dari masyarakat coba kita validasi. Nah, ternyata memang secara teori, hipotesis, yes, betul,” ungkapnya.
Masalahnya Bukan Sekadar Api
Namun, ada satu persoalan besar yang masih harus dijawab BRIN: seberapa efektif metode tersebut jika digunakan untuk kebakaran dalam skala luas?
Arif mengatakan kondisi karhutla berbeda dengan kebakaran dalam area kecil. Luas wilayah yang terbakar membuat sebuah metode harus benar-benar diuji sebelum bisa diterapkan secara masif.
“Tapi yang sekarang harus kita pikirkan adalah untuk skala berapa? Ya kan skala kebakaran hutan kan luas sekali,” tutur Arif.
Karena itu, BRIN bersama Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) tengah menyiapkan kajian dan uji coba untuk melihat kemampuan metode tersebut ketika diterapkan pada area kebakaran yang lebih besar.




💬 Diskusi Pembaca
0 KomentarMasuk dengan akun Google Anda untuk bergabung dalam diskusi:
Memuat diskusi...