JAKARTA, HOLOPIS.COM – Direktur Rumah Politik Indonesia, Fernando Emas, menilai turunnya tingkat kepuasan publik terhadap pemerintahan Presiden Prabowo Subianto berdasarkan hasil survei Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) harus dijadikan momentum untuk melakukan evaluasi besar-besaran terhadap kinerja Kabinet Merah Putih (KMP).
Fernando mengatakan penurunan tingkat kepuasan tersebut tidak bisa dipandang sebagai dinamika politik biasa. Menurutnya, hasil survei itu merupakan sinyal yang harus segera direspons melalui pembenahan internal pemerintahan.
“Dari hasil survei SMRC terjadi penurunan dari 81,2 persen pada November 2025 menjadi hanya 51,1 persen pada Juli 2026. Sudah seharusnya hasil survei tersebut menjadi rujukan bagi Presiden Prabowo Subianto untuk melakukan evaluasi terhadap kinerja seluruh tim anggota Kabinet Merah Putih (KMP) dan gaya kepemimpinannya,” kata Fernando Emas dalam keterangannya kepada Holopis.com, Kamis (30/7/2026).
Ia mengaku tidak terkejut dengan hasil survei tersebut. Menurut Fernando, penurunan tingkat kepuasan publik mencerminkan kondisi yang selama ini terlihat dari jalannya pemerintahan.
“Bagi saya hasil survei tersebut tidak mengagetkan karena sejalan dengan kinerja anggota KIM dan kepemimpinan Prabowo Subianto,” ujarnya.
Fernando juga menyoroti cara Presiden Prabowo dalam merespons kritik yang berkembang di tengah masyarakat. Ia menilai sikap tersebut turut memengaruhi persepsi publik terhadap pemerintah.
“Termasuk cara Prabowo merespons kritik yang terkesan tidak terima dan sering kali membuat narasi permusuhan terhadap para pengkritiknya,” katanya.
Lebih lanjut, Fernando menyebut hasil survei SMRC semestinya menjadi peringatan serius bagi pemerintah untuk segera melakukan langkah korektif sebelum tingkat kepercayaan masyarakat terus menurun.
“Turunnya tingkat kepuasan masyarakat terhadap kinerja pemerintahan Prabowo berdasarkan hasil survei SMRC harus dijadikan sebagai alarm bahaya keberlangsungan pemerintahannya. Lakukan evaluasi dan tindakan pembenahan terkait dengan ketidakpuasan masyarakat,” tegasnya.
Ia juga mendorong Presiden Prabowo melakukan perombakan kabinet terhadap para menteri yang dinilai tidak menunjukkan kinerja optimal. Menurutnya, jabatan menteri seharusnya difokuskan untuk bekerja melayani masyarakat, bukan untuk kepentingan politik pribadi.
“Termasuk melakukan reshuffle terhadap para anggota kabinetnya yang berkinerja buruk atau sibuk mengurusi partainya atau bahkan melakukan manuver untuk bisa ikut sebagai kontestan Pilpres 2029,” ucap Fernando.
Pada akhir keterangannya, Fernando mengingatkan agar Presiden tidak mengabaikan sinyal yang ditunjukkan melalui survei tersebut. Menurutnya, mengesampingkan aspirasi publik berpotensi memperlemah pemerintahan di sisa masa jabatan.
“Kalau Prabowo menganggap acuh terhadap hasil survei tersebut, saya yakin sekali bahwa Prabowo akan mengakhiri masa kepemimpinannya sebelum 2029,” pungkasnya.


