JAKARTA, HOLOPIS.COM – Mentan Amran membongkar dugaan skandal beras fortifikasi. Produk yang diperuntukkan bagi warga rentan ditemukan dijual hingga Rp42 ribu per kilogram.
Dugaan permainan harga beras fortifikasi mencuat setelah Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman menemukan adanya produk yang dijual hingga Rp42 ribu per kilogram.
Ironisnya, beras yang digadang-gadang untuk membantu masyarakat rentan mengatasi masalah gizi tersebut diduga tidak memenuhi standar mutu yang telah ditetapkan pemerintah.
Temuan ini membuat pemerintah bergerak cepat.
Mentan Amran mengungkapkan, hasil pemeriksaan laboratorium terhadap sejumlah sampel beras fortifikasi menemukan adanya produk yang tidak sesuai dengan standar Standar Nasional Indonesia (SNI).
Padahal, beras fortifikasi memiliki fungsi strategis karena diperkaya dengan sejumlah zat gizi untuk membantu memenuhi kebutuhan nutrisi masyarakat.
Berdasarkan ketentuan, beras fortifikasi harus memenuhi persyaratan kandungan gizi seperti vitamin B1, vitamin B12, asam folat, zat besi, dan seng.
Pemerintah sebelumnya juga telah memperketat pengawasan terhadap produk beras fortifikasi karena adanya dugaan perubahan pola bisnis produsen yang mengalihkan produk ke segmen tersebut.
“Ini ada SNI untuk beras fortifikasi. Beras ini harus diperkaya vitamin dan mineral sesuai persyaratan. Tapi hasil laboratorium kami menunjukkan ada yang tidak sesuai ketentuan,” ujar Amran dalam konferensi pers di Kantor Pusat Kementerian Pertanian, Jakarta, Kamis (30/7).
Mentan Amran mengungkapkan hasil pemantauan di lapangan menunjukkan harga beras fortifikasi berada di kisaran Rp22 ribu per kilogram.
Namun, pemerintah menemukan produk tertentu yang dijual jauh lebih mahal hingga Rp42 ribu per kilogram.
Angka tersebut dinilai tidak masuk akal karena tambahan biaya proses fortifikasi sebenarnya relatif kecil.
Menurut Amran, penambahan kernel fortifikasi yang mengandung vitamin dan mineral hanya membutuhkan biaya sekitar Rp700 hingga Rp1.000 per kilogram.



