JAKARTA, HOLOPIS.COM – Usai dicopot dari jabatan Kepala BGN, sederet pernyataan kontroversial Dadan Hindayana kembali viral dan ramai menjadi sorotan publik.
Pencopotan Dadan Hindayana dari jabatan Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) oleh Presiden Prabowo Subianto kembali memicu perbincangan luas di media sosial.
Seiring kabar pergantian pimpinan BGN, berbagai pernyataan dan kebijakan Dadan selama memimpin lembaga pelaksana Program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali diangkat warganet.
Nama Dadan sebelumnya memang kerap menjadi sorotan publik.
Sejumlah pernyataannya terkait gizi, pelaksanaan program MBG, penggunaan anggaran hingga rencana ekspansi program ke luar negeri menuai beragam tanggapan, mulai dari dukungan hingga kritik.
Dalam beberapa kesempatan, Dadan menegaskan bahwa berbagai kebijakan yang diambil bertujuan mendukung keberhasilan program prioritas pemerintah di bidang pemenuhan gizi.
Namun, sejumlah pernyataan tersebut justru menjadi bahan perdebatan di ruang publik.
Berikut sejumlah pernyataan dan kebijakan Dadan Hindayana yang kembali viral setelah dirinya dicopot dari jabatan Kepala BGN.
Konsumsi Susu Dua Liter Sehari
Salah satu pernyataan yang paling banyak dibicarakan publik adalah saat Dadan mendorong konsumsi susu hingga dua liter per hari.
Pernyataan itu disampaikan saat kunjungan ke sebuah pondok pesantren di Bangkalan, Jawa Timur, pada Mei 2025.
Saat itu Dadan menceritakan pengalaman pribadinya terkait pertumbuhan kedua anaknya yang disebut rutin mengonsumsi susu dalam jumlah besar.
Menurut Dadan, konsumsi susu yang cukup dapat membantu pertumbuhan tinggi badan anak.
Namun, pernyataan tersebut langsung memicu kritik dari berbagai kalangan.
Banyak warganet menilai anjuran tersebut sulit diterapkan oleh sebagian besar masyarakat Indonesia yang masih menghadapi keterbatasan ekonomi.
Harga susu yang relatif mahal dinilai membuat konsumsi dua liter per hari menjadi sesuatu yang tidak realistis bagi banyak keluarga.
Di media sosial, potongan video pernyataan tersebut berulang kali muncul dan menjadi bahan diskusi.
Sebagian pengguna internet menilai pernyataan itu kurang mempertimbangkan kondisi ekonomi masyarakat berpenghasilan rendah.
Polemik Pengawasan MBG
Kontroversi berikutnya muncul ketika pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis menghadapi sejumlah kasus dugaan keracunan makanan di beberapa daerah.
Program MBG merupakan salah satu program unggulan pemerintahan Presiden Prabowo yang menyasar pelajar di berbagai wilayah Indonesia.
Karena cakupannya yang luas, kualitas makanan dan standar keamanan pangan menjadi perhatian publik.
Dalam beberapa kesempatan, Dadan menyampaikan bahwa BGN telah bekerja sama dengan Badan Pengawas Obat dan Makanan untuk memastikan kualitas makanan yang didistribusikan kepada penerima manfaat.
Namun, pernyataan tersebut kemudian menjadi sorotan setelah adanya penjelasan dari pihak BPOM dalam rapat kerja bersama DPR.
Saat itu, Kepala BPOM menjelaskan bahwa lembaganya tidak terlibat secara langsung dalam pengawasan operasional dapur maupun standar produksi makanan sehari-hari.
BPOM disebut lebih berperan dalam penanganan dan investigasi ketika terjadi kasus keracunan makanan.
Perbedaan penjelasan tersebut memunculkan pertanyaan publik mengenai sistem pengawasan program MBG yang saat itu terus diperluas ke berbagai daerah.
Kasus dugaan keracunan yang terjadi di sejumlah wilayah semakin memperbesar perhatian terhadap tata kelola program dan kesiapan sistem pengawasan yang dijalankan.
Pengadaan Motor Trail Listrik
Perbincangan lain yang sempat ramai di media sosial adalah pengadaan sepeda motor trail listrik untuk mendukung operasional program MBG.
Publik menyoroti harga kendaraan yang disebut mencapai puluhan juta rupiah per unit.
Informasi tersebut memicu kritik karena dianggap tidak sejalan dengan semangat efisiensi anggaran di tengah berbagai kebutuhan masyarakat.
Warganet mempertanyakan urgensi penggunaan kendaraan dengan spesifikasi tersebut.
Sebagian menilai anggaran dapat dialokasikan untuk kebutuhan lain yang lebih mendesak dalam pelaksanaan program gizi nasional.
Meski demikian, pihak BGN saat itu menjelaskan bahwa kendaraan operasional diperlukan untuk menjangkau wilayah tertentu yang memiliki medan sulit dan membutuhkan sarana transportasi khusus.
Penjelasan tersebut tidak sepenuhnya meredam kritik.
Topik pengadaan motor trail listrik tetap menjadi salah satu isu yang banyak dibahas publik sepanjang pelaksanaan program MBG.
Anggaran Langganan Zoom
Selain pengadaan kendaraan, penggunaan anggaran untuk layanan konferensi daring juga sempat menjadi perhatian.
BGN mendapat sorotan setelah muncul informasi mengenai alokasi anggaran miliaran rupiah untuk layanan Zoom selama periode tertentu pada 2026.
Besarnya nilai anggaran membuat sejumlah pihak mempertanyakan kebutuhan riil penggunaan layanan tersebut.
Di media sosial, banyak pengguna internet membandingkan angka tersebut dengan kebutuhan program lain yang dianggap lebih mendesak.
Menanggapi kritik yang berkembang, Dadan menjelaskan bahwa anggaran tersebut bukan digunakan untuk layanan konferensi daring biasa.
Menurut dia, sistem yang digunakan merupakan layanan enterprise berskala besar yang mendukung ribuan pengguna aktif di lingkungan BGN.
Sistem tersebut juga disebut dapat melayani puluhan ribu peserta dalam satu ekosistem digital yang terintegrasi.
Meski telah dijelaskan, isu tersebut tetap menjadi salah satu bahan diskusi yang sering muncul ketika publik membicarakan tata kelola anggaran di lingkungan BGN.
Menu MBG Ramadan
Kontroversi berikutnya muncul ketika program MBG tetap berjalan selama bulan Ramadan.
Saat itu Dadan menjelaskan bahwa makanan yang dibagikan kepada siswa dirancang untuk dibawa pulang dan dikonsumsi saat berbuka puasa.
Menu yang disiapkan disebut mencakup susu, telur rebus, kurma, buah-buahan dan makanan yang memiliki daya tahan lebih lama.
Namun, sejumlah unggahan yang beredar di media sosial memperlihatkan paket makanan yang dianggap terlalu sederhana oleh sebagian masyarakat.
Beberapa foto menunjukkan menu berupa roti, telur rebus, kurma dan sereal instan. Unggahan tersebut kemudian viral dan memunculkan perdebatan mengenai kualitas serta nilai gizi makanan yang dibagikan.
Sebagian warganet mempertanyakan apakah menu tersebut sudah memenuhi tujuan utama program, yakni meningkatkan kualitas gizi peserta didik.
Di sisi lain, pendukung program menilai menu selama Ramadan memang perlu disesuaikan dengan kondisi puasa sehingga berbeda dengan paket makanan pada hari biasa.
Perdebatan mengenai menu MBG selama Ramadan menjadi salah satu isu yang paling banyak dibicarakan sepanjang pelaksanaan program tersebut.
MBG ke Arab Saudi
Pernyataan Dadan yang juga ramai diperbincangkan adalah rencana memperluas Program Makan Bergizi Gratis ke Arab Saudi.
Gagasan tersebut muncul setelah kunjungan ke sekolah Indonesia di Jeddah.
Saat itu Dadan mengungkapkan adanya antusiasme dari pihak sekolah terhadap kemungkinan penerapan program serupa bagi anak-anak Indonesia yang berada di luar negeri.
Pernyataan tersebut segera menarik perhatian publik karena banyak pihak menilai masih terdapat berbagai tantangan dalam pelaksanaan MBG di dalam negeri.
Warganet mempertanyakan urgensi ekspansi program ke luar negeri ketika pelaksanaan di Indonesia masih menghadapi berbagai persoalan teknis dan pengawasan.
Dadan juga sempat menjelaskan bahwa biaya penyediaan makanan di Arab Saudi jauh lebih tinggi dibandingkan Indonesia.
Menurutnya, harga satu porsi makanan di sana bisa mencapai 15 hingga 20 riyal atau setara puluhan ribu rupiah.
Meski demikian, Dadan menegaskan bahwa rencana tersebut masih sebatas penjajakan dan akan terlebih dahulu dilaporkan kepada Presiden sebelum diputuskan lebih lanjut.
Pernyataan itu kembali ramai dibicarakan setelah dirinya diberhentikan dari posisi Kepala BGN.
Kembali Viral
Setelah Presiden Prabowo melakukan pergantian pimpinan di BGN, berbagai rekam jejak pernyataan Dadan kembali beredar luas di berbagai platform media sosial.
Potongan video, tangkapan layar pemberitaan hingga unggahan lama kembali dibagikan oleh pengguna internet.
Sebagian mengaitkan kontroversi yang pernah muncul dengan keputusan pergantian pimpinan lembaga tersebut.
Meski demikian, pemerintah menyatakan pergantian pejabat dilakukan sebagai bagian dari evaluasi organisasi dan kebutuhan peningkatan kinerja program.
Hingga kini, belum ada pernyataan resmi yang menyebut bahwa pencopotan Dadan berkaitan langsung dengan kontroversi yang pernah muncul selama masa jabatannya.
Namun satu hal yang pasti, berbagai pernyataan dan kebijakan Dadan selama memimpin BGN kembali menjadi perhatian publik.
Dari polemik susu dua liter, pengawasan MBG, anggaran operasional, menu Ramadan hingga rencana ekspansi ke Arab Saudi, seluruhnya kembali viral dan menjadi bahan perbincangan setelah berakhirnya masa kepemimpinannya di Badan Gizi Nasional.


