JAKARTA, Holopis.com – Sebelum insiden di UGM, Budiman Sudjatmiko juga pernah bersitegang dengan mahasiswa di Semarang dalam forum diskusi Mahasiswa.
Polemik pernyataan Kepala Badan Percepatan Pengentasan Kemiskinan (BP Taskin) RI, Budiman Sudjatmiko, terhadap mahasiswa kembali jadi sorotan publik.
Setelah insiden diskusi di Universitas Gadjah Mada yang sempat ricuh dan berujung “digeruduk” peserta, publik mulai menelusuri jejak perdebatan serupa yang pernah terjadi sebelumnya.
Ternyata, sebelum momen panas di UGM itu mencuat, Budiman juga pernah terlibat polemik terbuka dengan mahasiswa dalam sebuah forum diskusi di Semarang.
Peristiwa tersebut terjadi dalam dialog bertajuk “Indonesia Emas atau Cemas? Telaah Kritis Indonesia Hari Ini” yang digelar pada Jumat (12/6/2026).
Dalam forum itu, suasana diskusi memanas saat Budiman beradu argumen dengan Ketua HMI Komisariat FISIP Undip, Muhammad Rafli Susanto.
Perdebatan bermula ketika Rafli melontarkan kritik keras terhadap cara pandang Budiman soal idealisme dan kebijakan publik yang dinilai tidak menyentuh akar persoalan masyarakat.
Ia menyinggung isu-isu sosial seperti petani dan kebijakan negara yang dianggap masih jauh dari realita lapangan.
“Bapak jangan bicara soal keidealan negara kalau tidak pernah memikirkan ide atau solusi yang menyentuh akar rakyat,” ucap Rafli dalam forum tersebut.
Situasi kemudian semakin panas ketika Rafli memilih tidak melanjutkan adu argumen karena akan mengikuti aksi unjuk rasa di Semarang.
Ia juga sempat menantang Budiman untuk berdiskusi di luar forum.
Budiman merespons dengan meminta Rafli keluar dari ruangan, disertai pernyataan yang kemudian menuai kontroversi di ruang publik.
“Anda bukan siapa-siapa. Silakan pergi,” kata Budiman dalam forum tersebut.
Cuplikan video pernyataan itu kemudian viral di media sosial dan memicu gelombang kritik.
Banyak pihak menilai ucapan tersebut tidak mencerminkan etika seorang pejabat publik, terlebih dalam ruang diskusi akademik yang terbuka bagi perbedaan pendapat.
Gelombang reaksi semakin besar setelah pegiat media sosial Andi Sinulingga ikut angkat suara.
Ia bahkan meminta Presiden Prabowo Subianto untuk mengevaluasi posisi Budiman di kabinet dan mencopotnya dari jabatan Kepala BP Taskin.
Andi menilai pernyataan tersebut telah merendahkan mahasiswa dan tidak pantas keluar dari seorang pejabat negara.
“Sebagai warga negara… saya memohon kepada Presiden Indonesia untuk memberhentikan Budiman Sudjatmiko dari jabatannya karena telah merendahkan seorang mahasiswa,” tulis Andi dalam unggahan di akun X miliknya.
Ia juga menyoroti bahwa pejabat publik seharusnya menjaga sikap dalam setiap forum, terutama ketika berhadapan dengan generasi muda yang sedang menyampaikan kritik.
Di sisi lain, polemik ini kembali mengemuka setelah insiden di UGM yang melibatkan Budiman dalam forum diskusi mahasiswa berujung ricuh dan sempat membuat suasana tidak kondusif.
Peristiwa tersebut membuat publik mengaitkan kembali pola interaksi Budiman dalam sejumlah forum akademik yang dinilai kerap memicu ketegangan.
Meski demikian, hingga saat ini belum ada pernyataan resmi lanjutan dari pihak Budiman terkait rangkaian polemik tersebut, baik di Semarang maupun dalam insiden diskusi di UGM.
Sementara itu, perdebatan di ruang publik masih terus bergulir.
Sebagian pihak menilai gaya komunikasi tegas dalam forum diskusi merupakan bagian dari dinamika debat terbuka.
Namun, tidak sedikit pula yang menilai bahwa pejabat publik seharusnya lebih berhati-hati dalam memilih diksi, terutama ketika berhadapan dengan mahasiswa.
Rangkaian peristiwa ini kini menjadi sorotan luas, memperpanjang diskusi publik soal etika pejabat negara di ruang akademik dan batas-batas dalam menyampaikan kritik di forum terbuka.


