Tikus Bukan Hama Biasa, Ini Perbandingan Pes, Leptospirosis, dan Hantavirus

51 Shares

JAKARTATikus ternyata bisa membawa penyakit mematikan seperti pes, leptospirosis, dan hantavirus. Kenali perbedaan gejala dan bahayanya.

Tikus selama ini cuma dianggap hama rumah yang bikin makanan kotor atau kabel putus.

Padahal di balik tubuh kecilnya, hewan pengerat ini ternyata bisa membawa sederet penyakit berbahaya yang mengancam nyawa manusia.

Belakangan, isu soal hantavirus kembali ramai dibicarakan usai muncul laporan kasus di kapal pesiar MV Hondius pada 2026.

Tapi ternyata, selain hantavirus, ada dua penyakit lain yang juga sama-sama ditularkan tikus dan tak kalah mematikan, yakni pes dan leptospirosis.

Meski sama-sama berasal dari tikus, ketiga penyakit ini punya penyebab, cara penularan, hingga tingkat kematian yang berbeda.

- Advertisement -

Yang bikin ngeri, gejala awalnya sering mirip sehingga banyak orang terlambat menyadari bahayanya.

Demam tinggi, nyeri otot, sakit kepala, hingga gangguan pernapasan bisa menjadi tanda awal infeksi.

Karena itu, masyarakat diminta lebih waspada, terutama saat musim hujan, banjir, atau ketika lingkungan rumah dipenuhi tikus.

Penyakit Pes

Penyakit pes atau plague mungkin terdengar seperti cerita sejarah abad pertengahan.

Tapi faktanya, penyakit ini belum benar-benar hilang.

Pes disebabkan oleh bakteri Yersinia pestis yang dibawa tikus dan ditularkan lewat gigitan pinjal atau kutu tikus.

Dalam sejarah dunia, wabah Black Death akibat pes pernah menewaskan jutaan orang di Eropa.

Yang membuat pes berbahaya adalah kecepatannya menyerang tubuh manusia.

Gejala awal biasanya berupa demam tinggi mendadak, menggigil, sakit kepala, dan muncul benjolan nyeri di ketiak atau selangkangan yang disebut bubo.

Pada kondisi lebih parah, bakteri bisa masuk ke aliran darah dan menyebabkan pes septisemik.

Bahkan, jika menyerang paru-paru, penderita dapat mengalami pes pneumonik yang memicu sesak napas dan batuk berdarah.

Jenis ini sangat berbahaya karena bisa menular antarmanusia melalui percikan ludah.

Tanpa pengobatan cepat, angka kematian pes bisa mencapai 30 hingga 100 persen.

Namun dengan antibiotik yang tepat, risiko kematian bisa ditekan drastis.

Meski Indonesia saat ini tidak termasuk negara endemis pes aktif, pemerintah tetap melakukan pengawasan berkala sebagai langkah antisipasi.

Leptospirosis

Kalau pes dikenal dari sejarah kelam dunia, leptospirosis justru masih jadi ancaman nyata di Indonesia sampai sekarang.

Penyakit ini disebabkan bakteri Leptospira interrogans yang hidup di ginjal tikus dan keluar melalui urine.

Saat musim hujan atau banjir datang, bakteri bisa mencemari air dan tanah.

Manusia bisa tertular ketika kulit yang lecet terkena air banjir yang sudah terkontaminasi urine tikus.

Bahkan luka kecil yang nyaris tak terlihat pun bisa menjadi pintu masuk bakteri.

Gejala leptospirosis sering dianggap flu biasa karena diawali demam mendadak, sakit kepala, mual, dan nyeri otot.

Namun ada satu tanda khas yang perlu diwaspadai, yakni nyeri hebat di bagian betis.

Selain itu, mata penderita juga bisa tampak merah tanpa kotoran mata.

Pada kasus berat, leptospirosis dapat berkembang menjadi Sindrom Weil yang menyebabkan kulit menguning, gagal ginjal akut, perdarahan, hingga meningitis.

Di Indonesia, kasus leptospirosis kerap meningkat setelah banjir besar terjadi.

Wilayah seperti Jakarta, Jawa Tengah, dan Jawa Timur termasuk daerah yang sering melaporkan kasus.

Data Kementerian Kesehatan menunjukkan angka kematian leptospirosis saat kejadian luar biasa bisa mencapai lebih dari 10 persen.

Hantavirus

Selain pes dan leptospirosis, dunia kesehatan kini juga memberi perhatian besar terhadap hantavirus.

Virus ini menyebar lewat partikel udara dari urine, feses, atau air liur tikus yang mengering lalu terhirup manusia.

Artinya, seseorang bisa tertular hanya karena membersihkan gudang, loteng, atau ruangan kotor yang penuh kotoran tikus tanpa menggunakan masker.

Berbeda dari dua penyakit sebelumnya, hantavirus belum memiliki obat antivirus khusus.

Dokter hanya bisa memberikan perawatan suportif untuk membantu fungsi organ tubuh sambil menunggu sistem imun melawan virus.

Hantavirus memiliki dua sindrom utama pertama adalah Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS) yang menyerang paru-paru.

Penderita biasanya mengalami demam dan nyeri otot sebelum kondisi memburuk menjadi sesak napas berat hingga gagal napas akut.

Angka kematian HPS sangat tinggi, bahkan bisa mencapai 50 persen.

Sindrom kedua adalah Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS) yang menyerang ginjal dan memicu perdarahan.

Yang bikin khawatir, beberapa strain hantavirus ditemukan pada tikus got di berbagai negara Asia, termasuk Indonesia.

Meski kasus pada manusia belum banyak dilaporkan secara resmi, para ahli menilai potensi penyebaran tetap ada mengingat populasi tikus perkotaan terus meningkat.

Beda Cara Penularan

Banyak orang mengira semua penyakit dari tikus menular dengan cara yang sama Namun faktanya tidak demikian.

Pes membutuhkan pinjal atau kutu tikus sebagai perantara utama sebelum menginfeksi manusia.

Leptospirosis menyebar lewat air atau tanah yang tercemar urine tikus.

Sementara hantavirus lebih sering menular melalui udara yang mengandung partikel kotoran tikus.

Perbedaan cara penularan ini membuat langkah pencegahannya juga berbeda.

Untuk pes, pengendalian tikus dan kutu menjadi langkah utama.

Leptospirosis lebih berkaitan dengan kebersihan lingkungan dan perlindungan saat banjir.

Sedangkan hantavirus membutuhkan ventilasi ruangan yang baik serta penggunaan masker saat membersihkan area kotor.

Ketiga penyakit ini sama-sama diawali gejala umum seperti demam tinggi, nyeri otot, dan sakit kepala.

Karena mirip flu atau infeksi biasa, banyak penderita datang terlambat ke rumah sakit.

Padahal, keterlambatan penanganan bisa berujung fatal.

Dokter biasanya memerlukan pemeriksaan laboratorium seperti PCR, kultur bakteri, atau tes serologi untuk memastikan diagnosis.

Pes dan leptospirosis masih bisa diobati menggunakan antibiotik jika terdeteksi sejak awal.

Namun untuk hantavirus, belum ada terapi spesifik yang benar-benar efektif.

Meningkatnya kasus penyakit zoonosis atau penyakit yang berasal dari hewan membuat masyarakat diminta lebih waspada terhadap keberadaan tikus di lingkungan sekitar.

Membersihkan rumah secara rutin, menutup akses masuk tikus, membuang sampah dengan benar, dan menggunakan alat pelindung saat membersihkan area kotor menjadi langkah penting yang tidak boleh diabaikan.

Selain itu, masyarakat juga diminta segera memeriksakan diri jika mengalami demam tinggi setelah kontak dengan banjir, gudang kotor, atau area penuh tikus.

Sebab dalam banyak kasus, nyawa penderita bisa diselamatkan jika penanganan dilakukan lebih cepat.

Kini jelas, tikus bukan sekadar hama biasa.

Di balik tubuh kecilnya, ada ancaman penyakit mematikan yang diam-diam mengintai manusia.

Cloud Startup - Bikin Website Kamu Makin Ngebut
Ikuti kami di Google News lalu klik ikon bintang. Atau kamu juga bisa follow WhatsaApp Holopis.com Channel untuk dapat update 10 berita pilihan redaksi dan breaking news.
Gesha Yuliani Nattasya
Muhammad Ibnu Idris
Gesha Yuliani Nattasya, Muhammad Ibnu Idris
Tim Redaksi :

Berita Lainnya

DKI JAKARTA
☀️
00:00:00
Memuat Kalender...
MEMUAT... - ---- H
MEMUAT... 00:00
-- : -- : --

YANG BARU