Hantavirus Mengintai Jakarta! Jangan Asal Nyapu Kotoran Tikus, Bisa Picu Infeksi Mematikan

0 Shares

HOLOPIS.COM, JAKARTA – Tiga kasus hantavirus ditemukan di Jakarta. Warga diminta tak sembarangan menyapu kotoran tikus karena bisa picu infeksi berbahaya.

Ancaman hantavirus mulai menjadi perhatian serius di Jakarta setelah Dinas Kesehatan (Dinkes) DKI Jakarta menemukan tiga kasus positif dan enam kasus suspek yang masih dipantau hingga Senin (18/5/2026).

Meski pasien positif disebut telah sembuh, masyarakat diminta tidak menganggap remeh penyebaran virus yang berasal dari tikus tersebut.

Peringatan itu muncul karena hantavirus diketahui dapat menyerang paru-paru hingga ginjal dan berpotensi menyebabkan kondisi fatal bila terlambat ditangani.

Salah satu hal yang paling diwaspadai adalah penularan saat membersihkan kotoran atau sarang tikus secara sembarangan.

Pakar entomologi kesehatan dan parasitologi IPB University, Prof Upik Kesumawati, mengatakan masyarakat perlu memahami cara penularan virus tersebut agar tidak panik namun tetap waspada.

- Advertisement -

Menurut dia, hantavirus merupakan virus zoonosis yang ditularkan hewan pengerat, terutama tikus.

Virus dapat menyebar ketika manusia menghirup partikel debu yang sudah terkontaminasi urine, air liur, maupun kotoran tikus yang terinfeksi.

Risiko penularan meningkat saat seseorang membersihkan area kotor tanpa perlindungan yang tepat.

“Jangan langsung menyapu atau menyedot debu dari kotoran tikus yang kering karena partikel virus bisa beterbangan dan terhirup,” ujar Prof Upik dalam keterangannya.

Ia menyarankan masyarakat terlebih dahulu membasahi area yang terkontaminasi menggunakan cairan disinfektan sebelum dibersihkan.

Cara sederhana itu dinilai efektif untuk mengurangi risiko partikel virus menyebar ke udara.

Prof Upik menjelaskan, hantavirus sebenarnya bukan penyakit baru di Indonesia.

Penelitian terkait virus tersebut sudah dilakukan sejak era 1980-an.

Namun, keberadaan tikus yang masih banyak ditemukan di lingkungan padat penduduk membuat potensi penularan tetap perlu diwaspadai.

Karena itu, menjaga kebersihan rumah dan lingkungan menjadi langkah penting untuk mencegah tikus berkembang biak.

Saluran air, gudang, tumpukan barang, hingga area dapur harus rutin dibersihkan agar tidak menjadi sarang tikus.

Selain menjaga kebersihan lingkungan, masyarakat juga diminta rajin mencuci tangan menggunakan sabun setelah beraktivitas di tempat yang berpotensi tercemar.

Makanan dan minuman juga perlu disimpan dengan baik agar tidak terkena kontaminasi dari tikus.

Gejala hantavirus pada tahap awal sering kali mirip penyakit biasa sehingga kerap diabaikan.

Penderitanya dapat mengalami demam, nyeri otot terutama di bagian paha, bahu, dan punggung, sakit kepala, tubuh lemas, hingga gangguan pencernaan.

Namun dalam beberapa hari, kondisi pasien bisa memburuk dengan cepat.

Pada kasus Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS), virus menyerang sistem pernapasan dan menyebabkan penumpukan cairan di paru-paru.

Akibatnya, penderita dapat mengalami batuk hebat, sesak napas, hingga kekurangan oksigen.

Sementara pada jenis Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS), hantavirus menyerang ginjal dan pembuluh darah.

Kondisi itu bisa memicu tekanan darah rendah, syok, kebocoran pembuluh darah, bahkan gagal ginjal akut.

Prof Upik mengingatkan masyarakat segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan apabila mengalami gejala tersebut, terutama setelah kontak dengan lingkungan yang banyak ditemukan tikus atau kotorannya.

Di sisi lain, Kepala Dinkes DKI Jakarta Ani Ruspitawati memastikan pemerintah daerah terus memperkuat pengawasan terhadap kasus hantavirus.

Menurut dia, seluruh fasilitas kesehatan di Jakarta telah diminta meningkatkan kewaspadaan sesuai arahan Kementerian Kesehatan.

“Hingga saat ini ada tiga kasus positif dan semuanya sudah sembuh. Namun masih ada enam suspek yang terus kami monitor,” kata Ani.

Dinkes DKI juga telah menyiapkan sejumlah rumah sakit sentinel untuk mempercepat deteksi dan penanganan apabila ditemukan kasus baru.

Selain itu, tim gerak cepat disiagakan untuk melakukan pemantauan apabila terjadi peningkatan kasus secara signifikan.

Ani menilai kesadaran masyarakat menjadi kunci utama dalam mencegah penyebaran hantavirus.

Ia meminta warga tidak menyepelekan kebersihan lingkungan, terutama di area yang rawan menjadi tempat berkembangnya tikus.

“Hantavirus ditularkan melalui tikus, jadi masyarakat harus lebih hati-hati ketika membersihkan tempat yang ada banyak tikus atau kotorannya,” ujarnya.

Munculnya kasus hantavirus di Jakarta menjadi pengingat bahwa ancaman penyakit dari lingkungan sekitar masih nyata.

Langkah sederhana seperti menjaga kebersihan rumah, menghindari kontak langsung dengan kotoran tikus, serta menggunakan disinfektan saat membersihkan area terkontaminasi bisa menjadi perlindungan awal agar terhindar dari infeksi berbahaya tersebut.

Cloud Startup - Bikin Website Kamu Makin Ngebut
Ikuti kami di Google News lalu klik ikon bintang. Atau kamu juga bisa follow WhatsaApp Holopis.com Channel untuk dapat update 10 berita pilihan redaksi dan breaking news.
Gesha Yuliani Nattasya
Ronald Steven
Gesha Yuliani Nattasya, Ronald Steven
Tim Redaksi :

Berita Lainnya

DKI JAKARTA
☀️
00:00:00
Memuat Kalender...
MEMUAT... - ---- H
MEMUAT... 00:00
-- : -- : --

YANG BARU