HOLOPIS.COM, JAKARTA – Anggota Komisi VII DPR RI dari Fraksi PKS, Tifatul Sembiring, mendorong pemerintah memperluas arah pengembangan pariwisata nasional. Upaya itu dengan beri perhatian lebih besar pada kawasan Indonesia bagian utara.
Menurut Tifatul, sektor pariwisata Indonesia masih memiliki potensi sangat besar yang belum dimanfaatkan secara maksimal. Ia menilai pemasukan devisa dari sektor wisata Indonesia masih tertinggal jauh dibanding negara-negara lain di kawasan Asia.
Dia menuturkan data devisa yang masuk ke Republik Indonesia tahun 2024 itu masih rendah, sekitar Rp64 triliun.
“Kalau kita bandingkan dengan Malaysia saja sudah Rp406 triliun pada tahun yang sama, dan juga dengan Jepang lebih jauh lagi Rp900 triliun pemasukan devisanya,” kata Tifatul dalam keterangannya dikutip dari laman resmi PKS, Rabu, (13/5/2026).
Ia menilai Indonesia terlalu bergantung pada Bali dan Nusa Tenggara Barat (NTB) sebagai wajah utama pariwisata nasional. Padahal, banyak daerah lain yang dinilai memiliki daya tarik besar dan berpotensi menjadi destinasi internasional baru.
“Komisi VII khususnya Fraksi PKS mendorong untuk tetap mempromosikan wisata di Indonesia,” lanjutnya.
Tifatul mengatakan, pihaknya tak menolak pengembangan Bali sebagai destinasi unggulan. Namun, pemerintah diminta mulai membuka pusat pertumbuhan wisata baru di wilayah lain agar potensi nasional lebih merata.
“Kami berfokus sebetulnya mengusulkan bukan hanya Bali ya. Bukan kita tidak setuju dengan Bali, tapi spot Indonesia itu luas sekali,” katanya.
Ia juga menyoroti peluang besar dari pasar wisata kawasan Asia Utara dan Asia Selatan yang dinilai jauh lebih menjanjikan dibanding pasar tradisional dari Australia dan Selandia Baru.
Menurutnya, jumlah penduduk di kawasan seperti China, India, ASEAN, Korea Selatan, dan Jepang mencapai miliaran orang dan bisa menjadi pasar wisata yang sangat besar bagi Indonesia.
“Kalau kita lihat ekonomi utara, ada China, ada India, tambah ASEAN, Korea, Jepang, dan lain-lain. Itu 3,6 miliar lebih penduduknya, bandingkan dengan 36 juta,” jelasnya.
Dalam paparannya, Tifatul menyebut sejumlah daerah di Indonesia bagian utara yang dinilai memiliki potensi wisata kelas dunia.
Mulai dari Aceh, Sumatera Utara, Kepulauan Riau, Kalimantan Utara, Sulawesi Utara, Maluku Utara, hingga Raja Ampat disebut memiliki peluang besar untuk dikembangkan menjadi destinasi unggulan baru.
“Saya buka di utara itu banyak sekali spot, masuk di Aceh, Sumatera Utara, daerah Kepri, Kalimantan Utara, Sulawesi Utara, sampai ke Maluku Utara dan Raja Ampat,” tutur Tifatul.
Ia optimistis, apabila seluruh potensi wisata tersebut digarap secara serius dan terintegrasi, maka pendapatan devisa Indonesia dari sektor pariwisata bisa melonjak drastis di masa depan.
“Saya pikir angka Rp64 triliun itu mungkin bisa dilipatkan 10 atau 100 kali lipat,” ujar Tifatul.


