BKSDA Bali Beri Penghargaan Lembaga Konservasi yang Hentikan Atraksi Gajah Tunggang

0 Shares

HOLOPIS.COM, DENPASAR — Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Bali secara resmi menyerahkan penghargaan kepada pengelola lembaga konservasi di Bali atas komitmen mereka menghentikan seluruh aktivitas peragaan gajah tunggang.

Langkah penyerahan apresiasi ini menjadi wujud pengakuan pemerintah terhadap transformasi tata kelola pariwisata berbasis satwa yang beretika di Pulau Dewata.

Pemberian penghargaan tersebut merupakan tindak lanjut dari penegakan Surat Edaran Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE) Nomor 6 Tahun 2025 tentang Penghentian Peragaan Gajah Tunggang.

Kepala BKSDA Bali, Ratna Hendratmoko, menegaskan bahwa kebijakan penghentian atraksi tunggang gajah bertujuan untuk meningkatkan standar etika dan kesejahteraan satwa dilindungi.

“Kebijakan ini bersifat wajib dan harus dipatuhi oleh seluruh pengelola gajah di Bali tanpa pengecualian demi menjaga martabat satwa,” ujar Ratna Hendratmoko dalam keterangan resminya.

Berdasarkan data BKSDA Bali, saat ini terdapat lima lembaga konservasi yang mengelola sebanyak 83 ekor gajah sumatera dari total 13 lembaga konservasi di wilayah Pulau Dewata.

Sebelum aturan baru ini ditegakkan, puluhan gajah sumatera tersebut secara rutin dimanfaatkan untuk melayani atraksi tunggang bagi para wisatawan komersial.

Pengelola Bali Zoo menjadi salah satu pelopor yang menghentikan wahana tunggang gajah secara mandiri sejak awal tahun sebagai bentuk komitmen nyata terhadap kesejahteraan satwa.

“Kami sangat mengapresiasi langkah proaktif pengelola yang mengambil inisiatif awal untuk menghentikan peragaan gajah tunggang,” tutur Ratna.

Langkah proaktif serupa kemudian diikuti oleh pengelola Mason Elephant Park di Kabupaten Gianyar yang juga resmi menghentikan seluruh operasional wahana gajah tunggang.

BKSDA Bali menegaskan bahwa pemberian penghargaan ini juga diiringi dengan monitoring berkala ke lapangan guna memastikan tidak ada lagi peragaan tunggang gajah yang tersisa.

Otoritas konservasi menjelaskan bahwa gajah sumatera tetap memerlukan aktivitas fisik harian, namun tidak lagi dalam bentuk menanggung beban penumpang di punggungnya.

Oleh karena itu, seluruh lembaga konservasi diimbau mengalihkan konsep wisata ke program interaksi tematik, seperti mendampingi gajah berjalan (ngangon) atau memandikan satwa.

Cloud Startup - Bikin Website Kamu Makin Ngebut
Dede Suhadi
Ronalds Petrus Gerson
Dede Suhadi, Ronalds Petrus Gerson
Tim Redaksi :

BACA LAINNYA