HOLOPIS.COM, JAKARTA – Jumlah korban tewas akibat serangan Israel yang terus berlangsung di Lebanon dilaporkan meningkat tajam. Data terbaru menunjukkan ratusan orang meninggal dunia dan ribuan lainnya mengalami luka-luka sejak eskalasi konflik terjadi.
“Korban tewas akibat serangan Israel yang berlangsung di Lebanon telah mencapai 634 orang, termasuk 91 anak-anak dan 47 perempuan, sementara 1.586 orang lainnya mengalami luka-luka,” demikian disampaikan, Menteri Kesehatan Lebanon Rakan Nasreddine, dikutip Holopis.com, Rabu (11/3).
Nasreddine juga mengungkapkan bahwa konflik yang terus berlangsung memberikan dampak serius terhadap sistem kesehatan di negara tersebut.
Menurutnya, sedikitnya 22 serangan telah menghantam fasilitas serta layanan medis, termasuk insiden yang menargetkan ambulans milik Palang Merah. Serangan-serangan tersebut semakin memperburuk kondisi pelayanan kesehatan di tengah meningkatnya jumlah korban.
Ia menambahkan bahwa sejak eskalasi konflik dimulai, sebanyak 15 tenaga kesehatan dilaporkan tewas dan 45 lainnya mengalami luka-luka.
Sementara itu, jumlah warga yang terpaksa mengungsi akibat pertempuran terus bertambah. Menteri Urusan Sosial Lebanon Haneen Sayed menyebut sekitar 816.000 orang kini telah meninggalkan tempat tinggal mereka.
“Sebanyak 816.000 pengungsi telah mendaftar di platform bantuan milik kementerian,” demikian disampaikan Sayed.
Dari jumlah tersebut, sekitar 126.000 orang saat ini menempati 589 pusat penampungan yang telah disediakan pemerintah di berbagai wilayah Lebanon.
Sayed menjelaskan bahwa pemerintah saat ini terus bekerja di lapangan untuk membantu keluarga pengungsi menemukan tempat perlindungan yang aman. Otoritas juga mengatur transportasi bagi warga yang perlu dipindahkan ke pusat penampungan.
Situasi keamanan di Lebanon kembali memanas setelah Hizbullah pada 2 Maret mengumumkan peluncuran roket dari wilayah Lebanon menuju Israel. Serangan tersebut disebut sebagai yang pertama sejak gencatan senjata diumumkan pada 27 November 2024.
Sebagai respons, militer Israel melancarkan apa yang mereka sebut sebagai kampanye militer ofensif terhadap Hizbullah. Operasi tersebut mencakup serangan udara intensif di berbagai wilayah Lebanon serta operasi darat di area perbatasan kedua negara.


