HOLOPIS.COM, JAKARTA – Mantan Wakil Menteri Luar Negeri Indonesia Dino Patti Djalal menyayangkan Istana membuat ide agar Presiden Prabowo Subianto terbang ke Teheran untuk menjadi penengah dan juru damai antara Iran, Amerika Serikat dan Israel. Menurutnya, ide tersebut cukup berisiko dan tidak realistis untuk dilakukan.
“Saya heran kenapa ide ini tidak difilter dulu sebelum diumumkan, karena sangat tidak realistis,” kata Dino Patti dalam video yang dikutip Holopis.com, Minggu (1/3/2026).
Sebagai diplomat yang pernah menjabat sebagai Duta Besar Indonesia untuk Amerika Serikat, ia menilai bahwa upaya Indonesia untuk berencana menjadi mediator pada konflik segitiga negara tersebut tidak akan berhasil. Mengingat Amerika Serikat jelas tidak akan mau menuruti apa yang diminta Indonesia dalam konflik tersebut.
“Dalam melakukan serangan militer kepada musuhnya, Amerika Serikat itu jarang sekali mau ditengahi atau di mediasikan oleh pihak ketiga. Ego Amerika sebagai negara super power terlalu tinggi untuk menerima itu,” ujarnya.
Ketimbang ikut campur secara aktif, Dino Patti yakin betul bahwa Donald Trump tak akan mau Indonesia turun gunung untuk menjadi juru damai. Apalagi memang situasi kebatinan pemerintah Amerika Serikat di bawah kepemimpinan Trump jelas sedang fokus untuk menumbangkan pemerintahan Iran.

“Dan saya juga meyakini presiden Trump kali ini tidak mau Indonesia ikut campur karena mood-nya pada saat ini sedang gelap mata untuk menumbangkan pemerintah Iran,” sambungnya.
Oleh sebab itu, ia menyarankan agar Istana tidak gegabah untuk meminta Presiden Prabowo Subianto terbang ke Iran dengan dalih misi perdamaian tersebut. Karena jika pun itu terjadi, maka suka tidak suka Prabowo akan bertemu langsung dengan Perdana Menteri Israel yakni Benjamin Netanyahu untuk melakukan diplomasi. Pun dalam matematika diplomasinya, situasi tersebut tidak mungkin terjadi, namun jika pun sampai terjadi maka bisa berdampak buruk bagi Presiden Prabowo sendiri.

“Upaya mediasi berarti presiden Prabowo harus bertemu dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu sebagai pihak yang paling utama menyerang Iran dan ini akan secara politik diplomatik dan juga logistik tidak mungkin terjadi, dan ini akan menjadi political suicide atau bunuh diri politik bagi presiden Prabowo di dalam negeri,” tutur Dino Patti.
Sekali lagi, ia mengaku sangat menyayangkan mengapa muncul ide tersebut dari lingkaran istana. Bahkan ia penasaran dengan siapa yang punya ide tersebut agar dijalankan oleh Kepala Negara Republik Indonesia itu.
“Jadi saya sungguh tidak tahu dari mana datangnya ide yang menakjubkan ini, agar presiden Prabowo terbang ke Teheran untuk menjadi mediator konflik segitiga,” ketusnya.


