Karena itu, Nastiti mengimbau orang tua agar membatasi aktivitas anak di luar ruangan selama abu vulkanik masih tersebar di udara. Menurutnya, anak sebaiknya berada di dalam ruangan dengan pintu dan jendela tertutup untuk mengurangi paparan. Jika anak terpaksa harus keluar rumah, penggunaan masker yang terpasang dengan baik menjadi salah satu langkah perlindungan.
“Berikan pelindung mata juga pada anak, dapat berupa kacamata untuk anak-anak. Kenakan pakaian tertutup pada anak untuk mengurangi paparan langsung abu vulkanik pada kulit sensitif anak,” imbau Nastiti.
Nastiti juga menyarankan orang tua menyiapkan obat-obatan rutin bagi anak yang memiliki riwayat asma atau alergi saluran pernapasan. Anak juga perlu dijauhkan dari paparan polusi di dalam rumah, seperti asap rokok maupun asap rumah tangga, yang dapat memperburuk kondisi udara. Selain itu, pastikan anak mengonsumsi cukup cairan untuk mencegah dehidrasi dan segera menghubungi petugas kesehatan terdekat apabila muncul gejala atau gangguan kesehatan setelah terpapar abu vulkanik.
Dengan demikian, penerapan pembelajaran jarak jauh atau PJJ di sejumlah daerah tidak hanya berkaitan dengan keberlangsungan kegiatan belajar mengajar, tetapi juga menjadi salah satu langkah untuk mengurangi paparan abu vulkanik pada anak selama kondisi udara masih tercemar.



