HOLOPIS.COM, JAKARTA – Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) mulai dirasakan warga di Kota Prabumulih, Sumatera Selatan. Kondisi udara disebut semakin pekat, terutama pada sore hingga malam hari.
Salah satu warga Prabumulih, Mulia, mengatakan kondisi tersebut sudah dirasakannya dalam empat hari terakhir. Menurutnya, asap terasa semakin pekat ketika memasuki sore hingga malam.
“Sudah empat hari belakangan ini asapnya pekat, udaranya juga pekat. Biasanya dari sore sampai malam,” kata Mulia, dikutip Holopis.com, Rabu (7/10).
Kondisi tersebut turut membuat mata terasa perih. Mulia juga mengaku sempat merasakan sesak ketika udara dipenuhi asap.
“Matanya bisa perih, terus saya juga merasakan sesak,” ujarnya.
Kualitas Udara Prabumulih Masuk Kategori Sangat Tidak Sehat
Keluhan warga tersebut terjadi ketika kondisi karhutla di Sumatera Selatan memang tengah meningkat. Data BPBD Sumsel yang dirangkum dari Sipongi pada Rabu (7/10) mencatat 3.762 hotspot dalam 24 jam terakhir. Angka tersebut menjadi yang tertinggi sepanjang 2026 berdasarkan catatan yang dirangkum BPBD Sumsel.
Prabumulih tercatat memiliki satu hotspot dalam periode tersebut. Namun, dampak asap tidak selalu berasal dari titik api yang berada tepat di dalam wilayah kota karena asap dapat terbawa angin dari wilayah lain.
Pada saat yang sama, data kualitas udara menunjukkan kondisi Prabumulih berada pada kategori sangat tidak sehat, dengan ISPU 265 dan konsentrasi PM2.5 yang menjadi salah satu indikator pencemaran udara.
Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan juga masih memperkuat penanganan karhutla di sejumlah wilayah. Kondisi kebakaran yang cukup tinggi antara lain masih terjadi di OKI, Kayuagung, Muara Enim, Banyuasin dan Musi Banyuasin.
Karhutla Masih Jadi Perhatian di Sejumlah Wilayah Indonesia
Secara nasional, Kementerian Kehutanan mencatat 1.201 hotspot dengan tingkat kepercayaan tinggi berdasarkan pemantauan hingga Selasa (6/10) pukul 21.00 WIB. Jumlah itu turun 158 titik dibandingkan sehari sebelumnya.
Dari enam provinsi yang menjadi wilayah prioritas pengendalian karhutla, Sumatera Selatan mencatat 71 hotspot dengan tingkat kepercayaan tinggi. Wilayah prioritas lainnya mencakup Kalimantan Tengah, Kalimantan Barat, Jambi, Kalimantan Selatan dan Riau.
Kementerian Kehutanan mengingatkan bahwa hotspot yang terdeteksi satelit merupakan indikasi anomali suhu permukaan dan tidak bisa langsung disamakan dengan jumlah kejadian kebakaran maupun luas lahan yang terbakar. Setiap indikasi tetap perlu diverifikasi melalui pemeriksaan lapangan.
Di tengah kondisi tersebut, masyarakat diminta memperhatikan kualitas udara dan mengurangi aktivitas di luar ruangan ketika kondisi udara memburuk. Penggunaan masker juga dianjurkan apabila harus beraktivitas di luar, terutama bagi kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, ibu hamil dan orang dengan gangguan pernapasan atau penyakit kronis.



