HOLOPIS.COM, JAKARTA – Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali memicu kekhawatiran terhadap kondisi industri nasional. Institute for Development of Economics and Finance (Indef) mengingatkan depresiasi rupiah bisa memberi tekanan besar terhadap dunia usaha.
Kondisi itu berimbas terhadap sektor manufaktur yang masih bergantung pada bahan baku impor.
Pada perdagangan Senin hingga siang (18/5), rupiah tercatat melemah 33 poin atau sekitar 0,19 persen menjadi Rp17.674 per dolar AS. Posisi ini lebih rendah dibanding penutupan sebelumnya yang berada di level Rp17.597 per dolar AS.
Kondisi itu dinilai berpotensi memicu lonjakan biaya produksi hingga ancaman pemutusan hubungan kerja (PHK).
Direktur Eksekutif Indef Esther Sri Astuti menjelaskan perusahaan perlu segera memperkuat strategi mitigasi risiko agar tidak terlalu terpukul oleh gejolak kurs.
Salah satu langkah utama yang disarankan adalah penggunaan instrumen lindung nilai atau hedging untuk melindungi arus kas perusahaan dari fluktuasi mata uang asing.
Menurut Esther, pelemahan rupiah akan sangat terasa bagi industri manufaktur yang masih mengandalkan impor bahan baku dari luar negeri.
Dia bilang kondisi itu berimbas langsung pada pasar kerja melalui pembengkakan biaya produksi.
“Kenaikan inflasi impor (imported inflation), ancaman pemutusan hubungan kerja (PHK), serta turunnya serapan tenaga kerja akibat terhambatnya ekspansi usaha,” kata Esther, Senin, (18/5/2026).
Selain perkuat hedging, Esther juga menyarankan perusahaan mulai mencari alternatif pemasok local. Langkah itu mengurangi ketergantungan terhadap bahan baku impor.
Meski diakui tak mudah, langkah itu dinilai penting agar industri tak terus terkena dampak langsung setiap kali rupiah melemah terhadap dolar AS.
Tak hanya itu, dunia usaha juga diminta melakukan efisiensi dan pengendalian biaya operasional agar kondisi keuangan perusahaan tetap terjaga.
Pun, rekomendasi selanjutnya adalah efisiensi dan pengendalian biaya operasional.
“Pelaku usaha melakukan efisiensi (cost cutting) seperti merasionalisasi belanja modal (capex) dan mengoptimalkan modal kerja tanpa mengorbankan kualitas,” ujar Esther.
Lebih lanjut, Indef juga mendorong pelaku usaha mulai memperluas penggunaan skema Local Currency Settlement (LCS) dalam transaksi perdagangan internasional.
Langkah itu dinilai bisa bantu mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS yang selama ini mendominasi transaksi global.
“Semakin banyak perusahaan yang mencoba melakukan pembayaran perdagangan internasional dengan mekanisme Local Currency Settlement atau LCS untuk mengurangi dominasi dan ketergantungan terhadap dolar AS,” kata Esther.
Di tengah tekanan rupiah yang terus melemah, dunia industri kini dihadapkan pada tantangan menjaga efisiensi. Kondisi itu dengan mempertahankan tenaga kerja, dan mencari strategi baru agar tetap mampu bertahan di tengah gejolak ekonomi global.




