HOLOPIS.COM, JAKARTA – Nilai tukar rupiah kembali menghadapi tekanan eksternal. Analis Bank Woori Saudara Rully Nova memperkirakan rupiah pada perdagangan Jumat (2/10/2026) bergerak melemah di kisaran Rp17.950 hingga Rp18.050 per dolar AS.
Proyeksi tersebut menempatkan rupiah di sekitar level psikologis Rp18.000 per dolar AS. Tekanan terutama berasal dari meningkatnya eskalasi konflik Amerika Serikat (AS) dan Iran yang turut mendorong pergerakan harga minyak global.
“Rupiah hari ini diperkirakan melemah pada kisaran Rp17.950- Rp18.050 dipengaruhi oleh global kenaikan harga minyak, yaitu meningkatnya eskalasi konflik AS dan Iran,” ujar Rully, Jumat (2/10/2026).
Gejolak tersebut menjadi perhatian pasar karena ketegangan geopolitik di kawasan dapat berdampak terhadap harga energi global. Bagi Indonesia, perubahan harga minyak dapat memengaruhi sentimen pasar terhadap rupiah serta kondisi perdagangan.
Selat Hormuz Jadi Sorotan
Ketegangan AS dan Iran juga berkaitan dengan situasi di Selat Hormuz, jalur strategis yang menjadi perhatian pasar energi global.
Mengutip Anadolu, pemerintah Iran menyatakan pembukaan kembali Selat Hormuz bergantung pada kesediaan AS memberikan “jaminan objektif” untuk mengakhiri konflik di berbagai lini.
Teheran juga menuntut pencairan aset Iran yang dibekukan, pencabutan blokade serta pembatasan terhadap distribusi minyak. Kondisi tersebut membuat ketidakpastian di pasar energi masih menjadi salah satu faktor yang diperhatikan pelaku pasar.
Di tengah ketegangan tersebut, AS juga mengumumkan sanksi baru terhadap sejumlah entitas Iran. Sanksi antara lain menyasar dua produsen otomotif besar Iran, Iran Khodro dan SAIPA, beserta sejumlah anak perusahaannya, serta perusahaan kereta api milik negara Iran.
Perkembangan tersebut menambah daftar sentimen geopolitik yang harus diperhitungkan pasar, khususnya ketika harga energi dunia bergerak dalam kondisi penuh ketidakpastian.
Selain faktor eksternal, sentimen dari dalam negeri juga menjadi perhatian. Rully Nova menilai perubahan struktur pemerintahan, khususnya yang berkaitan dengan pengelolaan energi dan komoditas, dapat memengaruhi persepsi pasar terhadap arah kebijakan ekonomi.
“Perubahan dalam kabinet pemerintah, terutama terkait dengan pengelolaan energi dan komoditas, secara signifikan mempengaruhi neraca perdagangan,” jelasnya.
Presiden Prabowo Subianto pada Kamis (1/10/2026) melantik Bahlil Lahadalia sebagai Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi. Bahlil juga tetap merangkap sebagai Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).
Pembentukan Kementerian Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi diarahkan untuk mempercepat pelaksanaan program hilirisasi dan transisi energi.
Pemerintah menyebut penyatuan koordinasi tersebut juga berkaitan dengan upaya memperkuat ketahanan dan kemandirian energi nasional di tengah dinamika geopolitik dan ekonomi global.



