Di sisi global, sebenarnya tekanan terhadap pasar mulai sedikit mereda.
Harga minyak dunia turun ke level US$92,16 per barel setelah Amerika Serikat dan Iran menahan diri dari aksi balasan yang sebelumnya dikhawatirkan dapat mengganggu pasokan energi global.
Indeks dolar AS juga terkoreksi 0,17 persen ke posisi 101,29.
Pelemahan dolar tersebut memberikan ruang bagi sejumlah mata uang Asia untuk menguat.
Yen Jepang tercatat menguat 0,13 persen, disusul dolar Singapura, yuan offshore, dan won Korea Selatan.
Namun, kondisi tersebut belum mampu sepenuhnya mengangkat rupiah.
Investor masih berhati-hati menunggu sejumlah agenda penting bank sentral dunia yang berpotensi menentukan arah pasar valuta asing.
Perhatian utama tertuju pada hasil rapat Federal Open Market Committee (FOMC) pada Rabu (29/7/2026).
Selain itu, keputusan Bank of England (BOE) dan Bank of Japan (BOJ) pada pekan yang sama juga akan menjadi sorotan.
Pasar akan mencermati sinyal kebijakan terkait suku bunga dan risiko inflasi ke depan.
Jika The Fed kembali menunjukkan sikap agresif atau hawkish dan membuka peluang kenaikan suku bunga pada September, dolar AS berpotensi kembali menguat.
Situasi tersebut dapat memicu keluarnya aliran modal asing dari negara berkembang, termasuk Indonesia.
Dari dalam negeri, tekanan rupiah juga berasal dari tingginya kebutuhan dolar untuk membiayai impor energi.



