HOLOPIS.COM, JAKARTA— Pembukaan lahan secara masif untuk Proyek Strategis Nasional (PSN) di Papua Selatan disebut berdampak terhadap kualitas air yang digunakan masyarakat. Air yang sebelumnya dapat dikonsumsi warga kini disebut berubah kualitas hingga menimbulkan gangguan pada kulit.
Manajer Pembelaan Hukum sekaligus anggota Tim Peneliti Imparsial, Teo Reffelsen, mengatakan temuan tersebut diperoleh dari keterangan masyarakat yang ditemui tim di sekitar kawasan pembukaan lahan.
“Kita coba kemudian bertemu dengan masyarakat di sekitar kawasan-kawasan yang terbuka, masyarakat menuturkan bahwa ada kualitas air yang berubah, bahkan tercemar,” kata Teo dalam pemaparan pemaparan hasil penelitian, Senin (28/9).
Menurut Teo, perubahan kualitas air tersebut dirasakan masyarakat dalam penggunaan sehari-hari. Air yang sebelumnya dapat dikonsumsi disebut kini tidak lagi aman digunakan.
“Air yang dulunya bisa dikonsumsi, sekarang bahkan tidak bisa dikonsumsi. Air yang dulunya bisa digunakan, sekarang kalau digunakan menghasilkan menyebabkan gatal-gatal, bahkan sampai dengan penyakit kudis,” ujarnya.
Teo mengatakan tim peneliti juga menelusuri informasi mengenai kondisi air rawa di kawasan tersebut. Berdasarkan informasi yang diterima dari masyarakat, pengelola PSN atau Food Estate disebut telah menggunakan zat tertentu untuk menurunkan tingkat keasaman air.
“Menurut masyarakat, pemerintah atau pengelola PSN atau pengelola Food Estate sudah mengonfirmasi bahwa ada zat asam yang kemudian dicampurkan ke dalam air-air rawa tersebut untuk menurunkan pH,” katanya.
Di sisi lain, persoalan air tersebut disebut berkaitan dengan perubahan ekosistem akibat pembukaan lahan. Tim peneliti mencatat sekitar 22 ribu kawasan hutan atau tegakan pohon hilang sepanjang 2024 hingga pertengahan 2025, mencakup hutan, rawa, sabana dan padang rumput.
Teo menilai pembukaan lahan secara masif tidak hanya berdampak pada hilangnya tutupan hutan, tetapi juga membawa perubahan terhadap kondisi lingkungan hingga karhutla yang dirasakan langsung masyarakat.
“Pembukaan lahan-lahan secara terampangan ini sangat berhubungan atau berkaitan erat dengan dampak-dampak ekologis yang terjadi, tidak hanya deforestasi, bahkan kemudian juga sampai kepada Karhutla,” ujar Teo.



