Rentang harga itu memperlihatkan perbedaan yang mencolok antara nilai penjualan di tingkat produsen dan harga akhir di pasar.
Pemerintah perlu menelusuri komponen biaya distribusi, margin perdagangan, serta kemungkinan pelanggaran yang menyebabkan selisih tersebut.
Persoalan harga juga dirasakan peternak ayam petelur.
Mereka mengeluhkan kondisi pasar yang membuat harga jual tidak memberikan keuntungan memadai.
Aspirasi para peternak bahkan disampaikan melalui demonstrasi di depan Gedung DPR RI.
Amran mengatakan dirinya telah menerima perwakilan asosiasi peternak ayam petelur pada Jumat (9/10/2026).
Pertemuan tersebut menjadi kesempatan untuk mendengarkan langsung persoalan yang dihadapi peternak sekaligus mencari jalan keluar atas ketimpangan harga.
Perhatian pemerintah tidak berhenti pada komoditas unggas.
Amran turut mempertanyakan pembentukan harga beras ketika persediaan pemerintah disebut mencapai 4,5 juta ton.
Jumlah tersebut, menurut keterangannya, telah melampaui kapasitas gudang yang berada di kisaran 3 juta ton.
Situasi ini mendorong perlunya evaluasi terhadap jalur distribusi dan mekanisme perdagangan beras agar ketersediaan stok dapat mendukung keterjangkauan harga.
Amran juga mengungkap dugaan penyimpangan dalam perdagangan beras fortifikasi.
Produk ini merupakan beras yang diperkaya zat gizi, termasuk vitamin B12, untuk membantu memenuhi kebutuhan nutrisi masyarakat.



