Merasa Harus Selalu Menyenangkan Orang Lain? Hati-Hati People Pleasing

0 Shares

HOLOPIS.COM, JAKARTA – Menyenangkan orang lain dan berusaha membantu ketika dibutuhkan tentu bukan sesuatu yang buruk. Namun, jika kebiasaan tersebut membuat seseorang terus mengesampingkan kebutuhan dan perasaan dirinya sendiri, kondisi tersebut bisa mengarah pada perilaku people pleasing.

People pleasing merupakan pola perilaku ketika seseorang terlalu mengutamakan kebahagiaan atau kebutuhan orang lain hingga mengorbankan kesejahteraan dirinya sendiri. Seseorang dengan kecenderungan ini biasanya sangat berusaha menjaga perasaan orang lain, menghindari konflik, dan mendapatkan penerimaan dari lingkungan sekitarnya.

Menurut Cleveland Clinic, sesekali mengalah atau membantu orang lain merupakan hal yang wajar. Masalah dapat muncul ketika seseorang merasa tidak punya pilihan selain selalu mengikuti keinginan orang lain, bahkan ketika hal tersebut membuat dirinya lelah, tidak nyaman, atau dirugikan.

Lantas, seperti apa tanda seseorang mungkin memiliki kecenderungan people pleasing?

1. Sulit Mengatakan “Tidak”

Salah satu tanda yang paling sering dikaitkan dengan people pleasing adalah kesulitan mengatakan “tidak”. Seseorang mungkin sebenarnya sedang lelah, memiliki banyak pekerjaan, atau tidak memiliki waktu untuk membantu, tetapi tetap mengatakan “iya” karena merasa tidak enak jika harus menolak.

Bagi sebagian orang, menolak permintaan dapat menimbulkan rasa bersalah. Mereka khawatir akan dianggap tidak peduli, egois, tidak bisa diandalkan, atau bahkan takut membuat orang lain kecewa.

Akibatnya, seseorang dapat terus menerima berbagai permintaan meskipun dirinya sendiri sudah kewalahan. Dalam jangka panjang, kebiasaan mengatakan “iya” ketika sebenarnya ingin mengatakan “tidak” dapat membuat seseorang kehilangan kendali atas waktu dan energinya sendiri.

2. Selalu Mendahulukan Kebutuhan Orang Lain

Orang dengan kecenderungan people pleasing dapat terbiasa menempatkan kebutuhan orang lain di atas kebutuhannya sendiri. Mereka mungkin merasa kebutuhan orang lain harus diselesaikan terlebih dahulu, sementara urusan pribadi bisa ditunda.

Misalnya, seseorang tetap membantu teman yang membutuhkan pertolongan meskipun dirinya sedang kelelahan. Contoh lainnya, seseorang terus menerima pekerjaan tambahan karena tidak ingin membuat rekan kerja kesulitan, meskipun sebenarnya tugas yang dimilikinya sendiri sudah menumpuk.

Kebiasaan tersebut mungkin terlihat seperti bentuk kepedulian. Namun, jika dilakukan terus-menerus tanpa mempertimbangkan kondisi diri sendiri, seseorang dapat semakin sulit mengenali apa yang sebenarnya ia butuhkan.

Cleveland Clinic menjelaskan bahwa people pleaser cenderung terus menempatkan kebutuhan orang lain lebih tinggi daripada kebutuhannya sendiri dan bahkan dapat mengambil tanggung jawab yang sebenarnya tidak perlu demi mendapatkan penerimaan atau kasih sayang orang lain.

3. Takut Mengecewakan Orang Lain

Takut membuat orang lain kecewa juga dapat menjadi alasan seseorang terus berusaha menyenangkan orang lain. Ia mungkin terlalu memikirkan bagaimana orang lain akan bereaksi ketika dirinya menolak, berbeda pendapat, atau memilih sesuatu yang tidak sesuai dengan keinginan orang tersebut.

Rasa takut ini dapat membuat seseorang mengubah keputusan yang sebenarnya sudah dibuat. Misalnya, ia sudah memiliki rencana untuk beristirahat tetapi kemudian membatalkannya karena merasa tidak enak ketika seorang teman meminta bantuan.

Tidak hanya itu, seseorang juga dapat terus memikirkan perkataan atau tindakannya setelah berinteraksi dengan orang lain. Ia mungkin bertanya-tanya apakah dirinya sudah membuat orang lain tersinggung, marah, atau kecewa.

Jika pola tersebut berlangsung terus-menerus, keputusan yang diambil akhirnya lebih banyak didasarkan pada keinginan untuk menjaga perasaan orang lain daripada mempertimbangkan kondisi dan kebutuhan diri sendiri.

4. Sulit Menetapkan Batasan

Kecenderungan people pleasing juga dapat membuat seseorang kesulitan menetapkan batasan dalam hubungan, pekerjaan, maupun kehidupan sehari-hari.

Batasan diperlukan untuk menentukan apa yang dapat dan tidak dapat dilakukan seseorang. Namun, bagi people pleaser, menetapkan batasan dapat terasa seperti tindakan yang egois atau berisiko membuat orang lain tidak menyukainya.

0 Shares
Cloud Startup - Bikin Website Kamu Makin Ngebut
Darin Brenda Iskarina
Tim Penulis & Editor
Darin Brenda Iskarina

BACA LAINNYA

Holopis UMKM
DKI JAKARTA
☀️ 🌙
00:00:00
Memuat Tanggal...
MEMUAT
-
---- H
MEMUAT 00:00
-- : -- : --
Waktu Dhuha --:-- — --:--

YANG BARU