Ahmad Dhani Bilang Orang yang Suka Musik Sulit Menghafal Alquran, Benarkah ?

0 Shares
Ukuran Teks:
21
Dengarkan:

HOLOPIS.COM, JAKARTA – Musisi legendaris yang sekaligus pentolan group band Dewa 19, Ahmad Dhani Prasetyo mengatakan, bahwa seseorang yang suka bermain musik akan sulit untuk menghafal Alquran.

Hal ini juga didasari pada kondisi dirinya, yang mengaku sering banyak lupa karena memori di otaknya cenderung untuk menyimpan kepingan-kepingan nada.

“Orang yang suka musik nggak bisa ngafalin quran. Du-duanya nggak bisa combine,” kata Ahmad Dhani dalam sebuah talkshow yang dilihat Holopis.com, Senin (9/3/2026).

Lantas, apakah penjelasan ilmiahnya terkait dengan kondisi yang disebutkan oleh Ahmad Dhani tersebut.

Secara khusus, memang tidak ada jurnal ilmiah yang memberikan konklusi bahwa orang yang suka bermusik akan cenderung sulit menghafal Alquran.

Namun ada penjelasan yang bisa ditarik untuk menangkap teori tersebut. Bahwa apa yang disampaikan Dhani berkaitan dengan aspek psikologi kognitif yang lebih mendalam, khususnya tentang bagaimana otak manusia memproses sebuah informasi auditori atau suara yang lebih kompleks.

Secara ilmiah, alasan mengapa musik dan menghafal Al-Qur’an sulit dilakukan secara bersamaan (combine) berkaitan dengan cara kerja Lobus Temporal di otak manusia, yang bertanggung jawab atas pemrosesan bahasa dan musik.

Tahsin Dan Tahfidz
Tahsin dan Tahfidz Alquran.

Setidaknya, bahwa kedua aktivitas tersebut sering kali saling “bertabrakan” di dalam otak. Yang pertama adalah karena konflik jalur auditori (Auditory Processing Conflict). Otak manusia memiliki keterbatasan dalam memproses dua bentuk input auditori yang berstruktur tinggi secara bersamaan.

Jika melihat dari materialnya, musik memiliki struktur ritme, melodi, dan harmoni. Sementara Al-Qur’an memiliki struktur tajwid, makhraj (titik artikulasi), dan nada (irama tilawah).

Secara ilmiah, ketika seseorang mencoba memasukkan kedua struktur ini, terjadi apa yang disebut interference effect. Otak akan mengalami kesulitan menentukan mana yang harus diprioritaskan sebagai memori jangka panjang, sehingga fokus menjadi terpecah dan hafalan tidak “melekat” dengan kuat.

Yang kedua karena efek Phonological Loop. Dalam model memori kerja (Working Memory) oleh Alan Baddeley, terdapat komponen bernama Phonological Loop. Ini adalah sistem yang menyimpan informasi berbasis suara selama beberapa detik agar bisa diingat.

Maka dari itu, apabila seseorang mendengarkan musik (terutama yang berlirik atau memiliki melodi kuat), sistem ini akan “terisi penuh” oleh elemen musik tersebut.

Akibatnya, tidak ada ruang tersisa bagi ayat Al-Qur’an yang sedang diulang-ulang di dalam pikiran. Otak terpaksa menghapus data ayat tersebut untuk memberi ruang bagi melodi musik yang terus mengalir.

Ketiga karena adanya kontradiksi respon emosional. Bahwa musik sering kali dirancang untuk memicu emosi tertentu melalui perubahan nada dan tempo. Sementara itu, menghafal Al-Qur’an memerlukan kondisi mental yang sangat tenang dan stabil (khusyuk). Kondisi ini membuat amigdala (pusat emosi di otak) yang terus-menerus terstimulasi oleh dinamika musik akan membuat pikiran menjadi “sibuk” secara emosional.

Kondisi “sibuk” ini berlawanan dengan kondisi Alpha State (gelombang otak tenang) yang biasanya diperlukan untuk menghafal teks suci dengan presisi tinggi.

Dan yang keempat adalah karena terjadi masalah recall (Pemanggilan Kembali). Hafalan yang baik bergantung pada “isyarat” (cue). Jika seseorang menghafal sambil sering mendengarkan musik, otak mungkin secara tidak sengaja mengaitkan potongan ayat dengan melodi tertentu.

Ketika musiknya hilang, “jembatan” memori tersebut ikut hilang, sehingga orang tersebut kesulitan mengingat ayatnya di lingkungan yang sunyi (seperti saat salat atau ujian hafalan).

Oleh sebab itu, dapat ditarik kesimpulan bahwa kendati secara biologis otak mampu menyimpan keduanya, secara operasional musik dan menghafal Al-Qur’an adalah dua aktivitas “high-bandwidth” yang memperebutkan sumber daya kognitif yang sama. Menjalankan keduanya secara intensif sering kali mengakibatkan salah satunya (biasanya hafalan) menjadi kurang optimal atau cepat hilang.

- Advertisement -
Google News

Jadikan Holopis.com sebagai sumber utama pilihanmu di Google untuk mendapatkan berita terbaru dan informasi aktual.

Tambahkan Sekarang
Muhammad Ibnu Idris
Tim Penulis & Editor
Muhammad Ibnu Idris
Apresiasi untuk Muhammad Ibnu Idris

Menyukai tulisan ini? Dukung penulis agar dapat terus menghadirkan karya berkualitas.

Pembayaran via QRIS, GoPay, DANA, OVO & ShopeePay.
0 Shares

💬 Diskusi Pembaca

0 Komentar

Masuk dengan akun Google Anda untuk bergabung dalam diskusi:

Memuat diskusi...

Cloud Startup - Bikin Website Kamu Makin Ngebut
Holopis UMKM
DKI JAKARTA
☀️ 🌙
00:00:00
Memuat Tanggal...
MEMUAT
-
---- H
MEMUAT 00:00
-- : -- : --
Waktu Dhuha --:-- — --:--

YANG BARU