Nanik S Deyang Kena Jantung Koroner Usai Ngaku Stres, Benarkah Tekanan Berat Bisa Picu Penyakit Jantung?

0 Shares

JAKARTA, HOLOPIS.COMPengakuan Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Nanik S Deyang yang mengidap jantung koroner setelah mengalami tekanan berat selama menjabat memunculkan pertanyaan di tengah masyarakat. Benarkah stres berkepanjangan bisa memicu penyakit jantung?

Nanik sebelumnya mengungkapkan bahwa hasil pemeriksaan dokter menunjukkan adanya penyumbatan pada arteri jantung. Selain dipengaruhi kolesterol tinggi, dokter juga menyebut stres berat menjadi salah satu faktor yang memperburuk kondisinya.

Ia mengaku tekanan selama memimpin Badan Gizi Nasional, termasuk mengawasi program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan mengelola anggaran negara yang mencapai Rp229 triliun, membuat kondisi fisik dan mentalnya terus menurun.

Pengalaman tersebut sebenarnya bukan hal yang asing di dunia medis. Para ahli menyebut stres memang tidak secara langsung menjadi penyebab utama penyakit jantung koroner, tetapi dapat meningkatkan risiko sekaligus memperburuk kondisi yang sudah ada.

Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah Primaya Hospital Tangerang, dr. Wira Kimahesa Anggoro, Sp.JP, menjelaskan bahwa stres merupakan reaksi alami tubuh ketika menghadapi tekanan, tantangan, atau situasi yang dianggap mengancam.

Dalam kondisi tertentu, stres justru bermanfaat. Misalnya ketika seseorang menghadapi tenggat pekerjaan atau sedang berolahraga, tubuh akan melepaskan hormon adrenalin yang membuat seseorang lebih waspada, fokus, dan memiliki energi lebih besar.

- Advertisement -

“Stres tidak selalu buruk. Pada situasi tertentu, respons ini membantu tubuh beradaptasi dengan tekanan,” jelas dr. Wira.

Namun, cerita berbeda ketika tekanan itu berlangsung terus-menerus tanpa jeda. Kondisi inilah yang dikenal sebagai stres kronis dan dapat berdampak pada berbagai organ tubuh, termasuk jantung.

Saat seseorang mengalami stres berat, tubuh akan memproduksi hormon adrenalin dan kortisol dalam jumlah lebih banyak.

Kedua hormon tersebut membuat detak jantung meningkat, tekanan darah naik, serta pembuluh darah menyempit. Jika kondisi ini terjadi sesekali, tubuh umumnya mampu kembali normal.

Sebaliknya, bila stres berlangsung selama berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan, jantung akan bekerja lebih keras dibandingkan kondisi normal.

Dalam jangka panjang, tekanan tersebut dapat memperbesar risiko tekanan darah tinggi, meningkatkan kadar kolesterol, hingga mempercepat proses penyumbatan pembuluh darah yang menjadi penyebab penyakit jantung koroner.

Tak hanya itu, stres juga sering memicu perubahan perilaku yang justru memperburuk kesehatan.

Cloud Startup - Bikin Website Kamu Makin Ngebut
Ikuti kami di Google News lalu klik ikon bintang. Atau kamu juga bisa follow WhatsaApp Holopis.com Channel untuk dapat update 10 berita pilihan redaksi dan breaking news.
Gesha Yuliani Nattasya
Muhammad Ibnu Idris
Gesha Yuliani Nattasya, Muhammad Ibnu Idris
Tim Redaksi :

Berita Lainnya

YANG BARU