JAKARTA, HOLOPIS.COM – Penunjukan Sudaryono sebagai Kepala BGN menuai kritik. MBG Watch mengaku pesimis dan menilai Program Makan Bergizi Gratis belum tentu berjalan lebih baik.
Penunjukan Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) Sudaryono sebagai Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) terus menuai kritik.
Kali ini, organisasi masyarakat sipil MBG Watch secara terbuka menyatakan pesimistis pergantian pimpinan tidak akan membawa perbaikan terhadap pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Anggota MBG Watch, Isnawati Hidayah, bahkan menyebut keputusan Presiden Prabowo Subianto menunjuk Sudaryono sebagai Kepala BGN merupakan keputusan terburuk selama implementasi Program MBG.
Isnawati mengaku tidak melihat adanya harapan besar terhadap pembenahan tata kelola BGN setelah pergantian kepemimpinan tersebut.
“Tidak. Kami merasa sangat pesimis karena kami melihat bahwa keputusan ini adalah keputusan paling buruk yang diambil oleh Bapak Presiden Prabowo selama implementasi dari MBG,” kata Isnawati.
Menurutnya, penunjukan Sudaryono justru mengulang pola yang sama seperti sebelumnya, yakni menempatkan figur yang dinilai memiliki kedekatan politik dengan Presiden tanpa menjawab persoalan mendasar dalam tata kelola program.
Ia menyoroti posisi Sudaryono yang saat ini masih menjabat sebagai Wakil Menteri Pertanian dan Komisaris Utama PT Pupuk Indonesia. Selain itu, Sudaryono juga disebut memiliki jaringan bisnis dan media yang luas.
“Jadi kita lihat bagaimana rangkap jabatan ini dan dekat secara politik dengan Bapak Presiden menjabat di program yang sangat krusial dan strategis dengan anggaran yang begitu besar seperti BGN ini,” ujarnya.
MBG Watch menilai kondisi tersebut berpotensi memunculkan konflik kepentingan serta memperkuat persepsi bahwa pengelolaan BGN semakin sarat nuansa politik.
Isnawati juga mengatakan pemerintah dinilai tidak belajar dari berbagai persoalan yang muncul dalam penyelenggaraan Program MBG sebelumnya.
“Polanya itu sama dan tidak belajar dari kesalahan masa lalu. Itulah kenapa kami menyebutnya sebagai keputusan terburuk,” katanya.
Ia turut menyinggung kepemimpinan Kepala BGN sebelumnya yang menurutnya tidak dipilih berdasarkan prinsip meritokrasi.



