Kim Jong-un Angkat Perang Ukraina Jadi Simbol Loyalitas, Aliansi Rusia Makin Kuat

0 Shares

HOLOPIS.COM, JAKARTA – Presiden Korea Utara Kim Jong-un menyinggung peran pasukan Korea Utara yang bertempur bersama Rusia sebagai simbol pengorbanan dan kesetiaan negara. Momentum ini dimanfaatkan Pyongyang untuk perkuat legitimasi militer sekaligus perdalam aliansi strategis dengan Moskow.

Pujian itu disampaikan Kim saat delegasi Rusia hadir di Pyongyang untuk meresmikan kompleks peringatan bagi pasukan Korut yang tewas dalam konflik di wilayah Kursk. Area itu sebelumnya sempat jadi medan pertempuran sengit antara Rusia dan Ukraina.

“Jiwa para korban akan hidup selamanya dengan kehormatan besar yang mereka bela,” kata Kim dalam pesan tulisan tangan di monumen tersebut dikutip pada Senin, (28/4/2026).

Dalam pertemuan tingkat tinggi itu, dua negara juga menyampaikan komitmen perkuat kerja sama militer jangka panjang. Menteri Pertahanan Rusia, Andrey Belousov, menyampaikan kesepakatan strategis tersebut.

“Kami sepakat dengan kementerian pertahanan DPRK untuk menempatkan kerja sama militer kami pada landasan yang stabil dan jangka Panjang,” ujar Belousov.

Kerja sama Rusia-Korut ini bahkan direncanakan berlangsung untuk periode 2027–2031, menandakan hubungan yang semakin terstruktur dan berkelanjutan.

- Advertisement -

Korut disebut sudah mengirim ribuan pasukan, termasuk rudal dan amunisi, untuk membantu Rusia dalam konflik Ukraina. Sebagai imbalannya, Pyongyang diduga menerima bantuan finansial, teknologi militer, hingga pasokan pangan dan energi.

Kim pun menegaskan posisi politik negaranya dalam konflik tersebut. “Akan terus sepenuhnya mendukung kebijakan Rusia dalam mempertahankan kedaulatan, integritas teritorial, dan kepentingan keamanannya,” lapor media pemerintah Korut.

Konflik Kian Memanas

Adapun pertempuran di berbagai wilayah masih terus memakan korban. Dalam 24 jam terakhir, sedikitnya 16 orang dilaporkan tewas akibat serangan di Ukraina, wilayah pendudukan Rusia, dan Rusia sendiri.

Serangan drone dan rudal Rusia di kota Dnipro menewaskan sedikitnya sembilan orang. Sementara, serangan balasan Ukraina juga terjadi di wilayah Rusia, termasuk fasilitas energi dan industri.

Ketegangan meningkat ketika Volodymyr Zelenskyy menuding Rusia melakukan ‘terorisme nuklir’ saat memperingati bencana Chernobyl disaster.

Zelenskyy memperingatkan bahwa aktivitas militer di sekitar kawasan tersebut dapat memicu bencana baru.

Kekhawatiran ini juga diperkuat oleh Direktur Jenderal IAEA, Rafael Grossi, yang menilai kerusakan pada struktur pelindung Chernobyl berpotensi mengganggu sistem keselamatan utama.

Di sisi lain, Ukraina meningkatkan tekanan dengan menyerang target strategis di dalam wilayah Rusia, termasuk kilang minyak di Yaroslavl dan fasilitas industri di Vologda.

Langkah ini menunjukkan kemampuan drone jarak jauh Ukraina yang kini mampu menjangkau hingga 1.500 kilometer ke dalam wilayah Rusia.

Di tengah eskalasi konflik, upaya perdamaian masih belum menunjukkan hasil. Donald Trump mengklaim telah melakukan ‘percakapan’ yang baik dengan Presiden Rusia dan Ukraina. “Kami sedang mengupayakan situasi Rusia, Rusia dan Ukraina, dan mudah-mudahan kami akan berhasil,” katanya.

Cloud Startup - Bikin Website Kamu Makin Ngebut
Ikuti kami di Google News lalu klik ikon bintang. Atau kamu juga bisa follow WhatsaApp Holopis.com Channel untuk dapat update 10 berita pilihan redaksi dan breaking news.
Dani Yoga
Dani Yoga
Tim Redaksi :

Berita Lainnya

YANG BARU