HOLOPIS.COM, JAKARTA – Pernyataan terbaru dari pemimpin Korea Utara, Kim Jong Un, membuka sisi gelap keterlibatan negaranya dalam konflik global. Kim secara terang-terangan mengonfirmasi adanya praktik ekstrem di medan perang.
Aksi ekstrem itu mendorong tentara Korut memilih kematian dibandingkan tertangkap. Kim menyampaikan demikian saat peresmian monumen untuk warga Korut yang tewas dalam perang di Ukraina. Keterlibatan Korut itu merupakan bagian dari eskalasi besar antara Rusia dan Ukraina.
Dalam pidatonya, Kim tidak hanya mengakui praktik tersebut. Tapi, dia memujinya sebagai bentuk pengorbanan tertinggi.
“Para pahlawan yang tanpa ragu memilih untuk meledakkan diri, serangan bunuh diri, untuk membela kehormatan besar,” kata Kim dikutip dari KCNA pada Rabu, (29/4/2026).
Ia menegaskan bahwa para prajurit itu bertindak tanpa pamrih. Sebab, kata dia, para prajurit itu tak mengharapkan kompensansi apa pun.
“Mereka tidak mengharapkan kompensasi apa pun, meskipun mereka melakukan prestasi yang luar biasa,” lanjut Kim.
“Mereka meninggal dengan cara kematian yang heroik,” ujar Kim.
Hubungan Erat Kim dengan Putin
Pernyataan ini memperkuat dugaan lama bahwa militer Korut menerapkan doktrin keras. Prajurit Korut tak boleh jatuh ke tangan musuh dalam kondisi apa pun.
Keterlibatan Korut dalam konflik ini tak lepas dari hubungan erat Kim dengan Presiden Rusia, Vladimir Putin. Pada 2024, kedua negara menandatangani pakta militer yang mencakup kerja sama pertahanan.
Sejak saat itu, berbagai laporan intelijen dari Korea Selatan dan Barat memperkirakan Pyongyang telah mengirim sedikitnya 10.000 tentara. Selain itu, puluhan ribu kontainer berisi persenjataan untuk mendukung Rusia di medan perang.
Namun, keterlibatan ini datang dengan harga mahal. Ribuan tentara Korut dilaporkan tewas dalam pertempuran, menandakan intensitas konflik yang tinggi.
Pengakuan Kim muncul setelah sejumlah laporan intelijen mengungkap praktik serupa di lapangan. Disebutkan bahwa pasukan Korea Utara memang diperintahkan untuk bunuh diri guna menghindari penangkapan oleh pihak Ukraina.
Informasi ini bahkan diperkuat oleh kesaksian seorang tentara Korut yang berhasil ditangkap. Begitu juga data dari intelijen Ukraina.
Adapun di tengah keterlibatan dalam perang Ukraina-Rusia, Korut juga terus meningkatkan aktivitas militernya. Sepanjang tahun ini, Pyongyang dilaporkan melakukan serangkaian uji coba rudal, termasuk rudal balistik jarak pendek Hwasong-11 (KN-23/KN-24).
Menurut Ukraina, jenis rudal tersebut juga telah dipasok ke Rusia dan digunakan dalam serangan terhadap Kyiv.

