Di Tengah Banjir Informasi, Kenapa Literasi Media Jadi Sangat Mendesak?

0 Shares

HOLOPIS.COM, JAKARTA – Di era digital seperti sekarang, Sobat Holopis pasti sudah tidak asing dengan media sosial. Setiap hari, kita terpapar berbagai informasi yang datang silih berganti, mulai dari berita, opini, hingga konten hiburan.

Namun, aktif di media sosial belum tentu berarti kita benar-benar memahami informasi yang kita konsumsi. Banyak orang merasa “tahu” hanya karena sering melihat suatu isu, padahal belum tentu memahami konteks atau kebenarannya.

Pakar komunikasi Neil Postman dalam bukunya Amusing Ourselves to Death pernah mengingatkan bahwa masyarakat modern cenderung mengonsumsi informasi sebagai hiburan, bukan sebagai sesuatu yang perlu dipahami secara kritis. Gagasan ini masih sangat relevan hingga saat ini.

1. Banjir Informasi Bisa Menyesatkan

Akses informasi yang luas memang memberikan kemudahan. Namun tanpa kemampuan menyaring, justru bisa membuat seseorang kewalahan dan salah memahami realitas.

Informasi yang viral belum tentu benar. Banyak konten dibuat untuk menarik perhatian, bukan untuk menyampaikan fakta yang utuh.

Dengan literasi media, seseorang tidak hanya menerima informasi, tetapi juga mampu mempertanyakan sumber, konteks, dan tujuan di baliknya.

- Advertisement -

2. Hoaks Menyebar Lewat Kebiasaan “Share Tanpa Cek”

Kemudahan berbagi informasi membuat hoaks menyebar lebih cepat dari sebelumnya. Generasi muda sering menjadi kelompok yang paling aktif dalam menyebarkan konten, baik sadar maupun tidak.

Menurut Claire Wardle dalam laporan penelitian berjudul Information Disorder, informasi yang salah sering menyebar bukan karena niat jahat, tetapi karena kurangnya kesadaran dalam memverifikasi.

Artinya, masalahnya bukan hanya pada kontennya, tetapi juga pada perilaku pengguna.

3. Algoritma Membentuk Cara Kita Melihat Dunia

Media sosial tidak selalu menampilkan realitas secara utuh. Algoritma bekerja dengan menyesuaikan konten berdasarkan kebiasaan pengguna.

Akibatnya, seseorang bisa terus melihat informasi yang sejalan dengan pandangannya saja. Hal ini disebut sebagai echo chamber, yang dapat mempersempit cara berpikir.

Literasi media membantu kita menyadari bahwa apa yang kita lihat di layar belum tentu mencerminkan keseluruhan realitas.

4. Anak Muda Bukan Hanya Konsumen, Tapi Produsen Informasi

Setiap unggahan di media sosial memiliki dampak. Generasi muda kini memiliki peran ganda, sebagai penerima sekaligus penyebar informasi.

Karena itu, penting untuk memahami bahwa setiap konten yang dibagikan bisa memengaruhi orang lain. Tanggung jawab ini tidak bisa dianggap sepele. Melek media berarti sadar bahwa setiap informasi membawa konsekuensi.

5. Literasi Media adalah Keterampilan Masa Depan

Di tengah dunia yang semakin kompleks, kemampuan berpikir kritis menjadi kunci. Literasi media bukan hanya soal memahami informasi, tetapi juga soal mengambil keputusan yang tepat berdasarkan informasi tersebut.

Generasi muda yang memiliki literasi media yang baik akan lebih siap menghadapi tantangan global dan berkontribusi secara positif di masyarakat.

Sekadar informasi, literasi media bukan hanya tentang kemampuan menggunakan teknologi, tetapi juga tentang bagaimana kita memahami, menilai, dan bertanggung jawab atas informasi yang kita konsumsi dan sebarkan.

Cloud Startup - Bikin Website Kamu Makin Ngebut
Ikuti kami di Google News lalu klik ikon bintang. Atau kamu juga bisa follow WhatsaApp Holopis.com Channel untuk dapat update 10 berita pilihan redaksi dan breaking news.
Darin Brenda Iskarina
Darin Brenda Iskarina
Tim Redaksi :

Berita Lainnya

DKI JAKARTA
☀️
00:00:00
Memuat Kalender...
MEMUAT... - ---- H
MEMUAT... 00:00
-- : -- : --

YANG BARU