HOLOPIS.COM, LAMPUNG – Teknologi penginderaan jauh kini mulai dimanfaatkan untuk mendukung pembangunan pertanian di Lampung. Salah satunya melalui peluncuran Satelit Lampung-1 yang membawa teknologi berbasis kecerdasan buatan (AI).
Satelit tersebut diluncurkan menggunakan roket pengangkut Smart Dragon-3 dari Shandong, China, pada Rabu (5/8/2026).
Kehadiran Satelit Lampung-1 diarahkan untuk membantu Pemerintah Provinsi (Pemprov) Lampung memperoleh data yang lebih detail dalam menyusun kebijakan, khususnya terkait pengembangan sektor pertanian.
Teknologi ini memungkinkan pengumpulan informasi mengenai kondisi lahan dan tanaman dari udara. Data tersebut nantinya dapat diolah untuk menghasilkan informasi yang lebih mudah digunakan dalam pengambilan keputusan.
Punya 22 saluran spektral
Satelit Lampung-1 menggunakan teknologi hiperspektral, yakni teknologi yang mampu menangkap informasi spektral dan spasial dari suatu target.
Satelit ini memiliki 22 saluran spektral, dengan rentang panjang gelombang antara 400 hingga 1.650 nanometer.
Dari sisi kemampuan pencitraan, Satelit Lampung-1 memiliki resolusi spasial hingga 5 meter dengan cakupan pencitraan mencapai 300 kilometer.
Sementara itu, satelit tersebut memiliki bobot sekitar 300 kilogram dan kapasitas komputasi mencapai 400 TOPS.
Data satelit akan diolah BRIN
Pemanfaatan data Satelit Lampung-1 tidak berhenti pada pengambilan gambar atau informasi dari orbit.
Berdasarkan alur pemanfaatan data Pemerintah Provinsi Lampung, satelit akan mengirimkan data spasial dan informasi lainnya. Selanjutnya, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) melakukan kalibrasi, validasi kualitas, analisis, hingga menerjemahkan data tersebut menjadi informasi yang dapat digunakan.
Setelah melalui proses tersebut, Pemprov Lampung akan menerima informasi yang siap digunakan sebagai bahan perencanaan dan penyusunan kebijakan.
Untuk sektor pertanian, informasi yang dihasilkan dapat dimanfaatkan antara lain untuk pemetaan lahan, pemantauan tanaman, serta identifikasi kekurangan air.
Teknologi yang sama juga dapat dimanfaatkan untuk sektor lingkungan, seperti pemantauan pesisir dan kelautan serta perubahan tutupan lahan.
Bukan untuk menggantikan petani
Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal menegaskan bahwa teknologi satelit tersebut bukan ditujukan untuk menggantikan peran petani.
“Teknologi ini bukan menggantikan petani, melainkan membantu petani dan pemerintah mengambil keputusan lebih baik, lebih cepat, dan lebih tepat sasaran.”
Dengan dukungan data dari satelit, pemerintah diharapkan dapat membuat keputusan berdasarkan kondisi lapangan yang lebih terukur. Bagi sektor pertanian, informasi tersebut dapat menjadi salah satu dasar untuk melihat kondisi lahan dan tanaman secara lebih luas.
Bisa bantu deteksi potensi bencana
Pemanfaatan Satelit Lampung-1 juga tidak hanya berfokus pada pertanian.


