HOLOPIS.COM, JAKARTA – Rencana pengiriman 8.000 pasukan perdamaian Indonesia ke Gaza, Palestina, menuai sorotan setelah muncul tudingan bahwa langkah tersebut merupakan bagian dari upaya pendudukan di Rafah.
Narasi itu berkembang usai disampaikan dalam sebuah forum diskusi publik dan ramai diperbincangkan di media sosial.
Pernyataan tersebut dilontarkan peneliti senior Imparsial sekaligus Ketua Centra Initiative, Al Araf.
Ia mempertanyakan arah misi yang akan dijalankan Indonesia dalam skema internasional tersebut.
Isu ini memicu perdebatan karena membangun persepsi seolah-olah Indonesia akan melanjutkan operasi militer yang dilakukan Israel di wilayah Palestina.
Dalam diskusi bertajuk Bahaya di Balik Perjanjian Dagang USA-Indonesia dan Board of Peace: Imperialisme Gaya Baru?, Al Araf menyampaikan kritiknya secara terbuka.
“Sialnya lagi adalah, misinya kagak jelas. Bukan dalam konteks kemerdekaan Palestina, tapi justru dalam konteks, dalam bahasa halusnya adalah, pendudukan. Melanjutkan apa yang sudah dilakukan oleh IDF (Pasukan Pertahanan Israel),” kata Al Araf, Rabu (25/2).
Pemerintah membantah keras tudingan tersebut. Presiden Prabowo Subianto menegaskan bahwa 8.000 personel yang disiapkan akan bergabung dalam International Stabilization Force (ISF) untuk menjalankan misi perdamaian di Gaza.
Pernyataan itu disampaikan dalam pertemuan perdana Dewan Perdamaian atau Board of Peace (BoP) di Washington DC yang turut dihadiri Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan sejumlah pemimpin negara lain.
Menteri Luar Negeri Sugiono juga memastikan bahwa Palestina mengetahui dan memahami mandat pasukan tersebut.
Ia menegaskan Indonesia tidak akan terlibat dalam pelucutan senjata maupun operasi militer ofensif.
“Langkah pertama dari rencana komprehensif ini adalah ceasefire atau gencatan senjata. Setelah itu, diciptakan suasana yang aman dan stabil, baru tahapan-tahapan berikutnya dapat dijalankan. Dan itu juga kemarin sudah disampaikan,” ujar Sugiono dalam keterangan pers yang diterima oleh Holopis.com, Minggu (1/3).
Menurut pemerintah, misi Indonesia dalam ISF berfokus pada stabilisasi lingkungan sipil dan dukungan kemanusiaan sesuai hukum internasional.
Penjelasan ini menempatkan keterlibatan Indonesia sebagai kontribusi diplomatik untuk mendorong terciptanya kondisi aman sebagai fondasi pemulihan Gaza.


