JAKARTA – Menteri Keuangan (Menkeu), Sri Mulyani Indrawati menyampaikan, bahwa perekonomian saat ini telah tiba pada era ‘The New Economic Order’. Hal ini disampaikannya dengan melihat kondisi perekonomian global saat ini.
“Kita telah tiba di era “The New Economic Order”. Setelah lebih dari 50 tahun rule based multilateralisme dan globalisasi menjadi fondasi tatanan ekonomi dunia, kini unilateralisme menjadi rule of the game,” kata Sri Mulyani dalam unggahan di akun Instagram resminya, seperti dikutip Holopis.com, Jumat (14/3).
Dia menuturkan, bahwa perekonomian global saat ini tengah dihadapkan oleh perang dagang, dipicu oleh kebijakan kenaikan tarif yang diterapkan oleh Amerika Serikat (AS) terhadap negara-negara yang dulunya sekutu, seperti Canada, Eropa, Mexico dan RRT.
“Ini menimbulkan reaksi retaliasi dan resiprokalitas. Setiap negara harus bekerja keras melindungi kedaulatan dan kepentingan masing-masing – tidak terkecuali Indonesia,” ujar Sri Mulyani.
Di tengah eskalasi perang dagang dan ekonomi dan menghangatnya ancaman perang di berbagai negara, lanjut Sri Mulyani, ekonomi Indonesia masih mampu bertahan positif. Dimana pertumbuhan ekonomi 2024 masih di atas 5 persen, inflasi rendah dan Neraca Pembayaran 2024 surplus US $ 7,2 milyar, naik 14,2 persen dari tahun sebelumnya.
“Posisi Keseimbangan tetap baik dengan surplus Neraca Perdagangan Januari 2025 naik 78 persen atau IS$ 1,5 milyar dibanding tahun 2024, hingga mencapai US$ 3,5 milyar,”.tambahnya.
Bendahara Negara itu lantas memaparkan realisasi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) hingga akhir Februari 2025, dimana pendapatan negara tercatat sebesar Rp316,9 triliun atau 10,5 persen dari target yang ditetapkan pada tahun ini.
Kemudian belanja negara mencapai Rp348,1 triliun atau 9,6 persen dari pagu target, serta surplus keseimbangan primer tercatat sebesar Rp48,1 triliun.
“Meskipun moderasi harga komoditas menyebabkan perlambatan penerimaan negara, pemerintah tetap melakukan berbagai inisiatif strategis dan perbaikan administratif guna menjaga dan meningkatkan penerimaan,” ujarnya.
Sementara itu, lanjut Sri Mulyani, belanja negara tetap efisien dan tepat sasaran, dengan fokus pada bantuan sosial serta kebutuhan masyarakat. Dia menekankan, bahwa APBN terus berfungsi sebagai instrumen utama dalam menjaga stabilitas ekonomi, mendukung pertumbuhan, serta meningkatkan kesejahteraan rakyat.
“Pemerintah menegaskan bahwa di tengah ketidakpastian global, Indonesia tetap optimistis dan siap menghadapi tantangan dalam tatanan ekonomi dunia yang baru,” pungkas Sri Mulyani.




