JAKARTA – Pernyataan Tenaga Ahli Utama Kantor Staf Presiden (KSP) Ulta Levenia Nababan yang mencurigai adanya pihak asing di balik sejumlah bencana dan gejolak di Indonesia mendapat sorotan dari Founder Nusa Ina Connection (NIC), Abdullah Kelrey.
Kelrey menilai pernyataan tersebut tidak semestinya disampaikan oleh seorang tenaga ahli pemerintah apabila tidak disertai data maupun bukti yang dapat diverifikasi.
Menurutnya, tenaga ahli di lingkungan pemerintah seharusnya memberikan analisis berbasis data dan menawarkan solusi terhadap persoalan yang dihadapi masyarakat, bukan justru melontarkan dugaan yang berpotensi menimbulkan keresahan.
“Tenaga ahli utama macam apa ini? Bukannya memberikan solusi, kok malah curiga. Ini terlalu banyak nonton film drama jadi cara berpikirnya begini. Kalau rakyat curiga wajar karena pengetahuannya minim, tetapi kalau tenaga ahli pemerintah harusnya bicara berdasarkan data dan bukti,” ujar Kelrey kepada Holopis.com, Selasa (8/9/2026).
Kelrey juga mempertanyakan dasar yang digunakan untuk menghubungkan bencana alam dengan kepentingan atau campur tangan pihak asing.

Ia mengatakan apabila pemerintah memiliki indikasi adanya intervensi asing dalam berbagai peristiwa tersebut, dugaan itu seharusnya ditindaklanjuti melalui investigasi dan pembuktian, bukan sekadar disampaikan sebagai kecurigaan.
“Kalau memang ada dugaan keterlibatan pihak asing, ya harus dibuktikan. Jangan hanya membangun asumsi atau kecurigaan tanpa data yang jelas,” ujarnya.
Kelrey turut menyoroti pernyataan mengenai aksi demonstrasi yang disebut memiliki kemungkinan ditunggangi pihak tertentu. Menurut dia, kemarahan masyarakat terhadap pemerintah merupakan bagian dari kritik yang semestinya didengar dan tidak serta-merta dicurigai sebagai hasil intervensi pihak lain.
Oleh sebab itu, ia berharap agar pola-pola komunikasi yang amburadul seperti yang dilakukan anak buah Jenderal TNI (purn) Dudung Abdurrahman di Istana Negara tersebut harus dievaluasi secara serius.
“Sebagai pembantu Presiden jangan berlebihan. Berikan solusi, bukan membuat masalah baru. Menurut saya, pernyataan seperti ini sudah blunder dan kalau tidak mampu memberikan manfaat, sebaiknya diganti saja. Jangan sampai justru menjadi beban negara dan beban Presiden,” tegas Kelrey.
Ulta Sebut Ada Kemungkinan Orkestrasi
Sebelumnya, Ulta Levenia Nababan memang mengungkapkan kecurigaannya mengenai kemungkinan adanya pihak asing yang mengorkestrasi sejumlah gejolak hingga bencana alam di berbagai negara, termasuk Indonesia.
Dalam sebuah podcast Bukan Kaleng Kaleng, Ulta mengaku melihat pola dari sejumlah peristiwa yang menurutnya menimbulkan pertanyaan. Ia mencontohkan kondisi di Turki dan China yang disebutnya sempat mengalami gesekan dengan Amerika Serikat sebelum kemudian terjadi gempa.
Ulta kemudian mengaitkan sejumlah dinamika di Indonesia, termasuk gejolak di Aceh dan Papua serta isu mengenai Kalimantan, dengan rangkaian peristiwa tersebut.




