Langkah ini diharapkan bisa menjaga ketersediaan air di sentra-sentra produksi pangan.
Ketiga, produktivitas pertanian terus didorong agar hasil panen tetap tinggi meski kondisi cuaca kurang bersahabat.
Salah satunya melalui metode PM AAS yang diklaim mampu meningkatkan produktivitas secara signifikan.
“El Nino dampaknya insya Allah kita mitigasi. Karena kita sudah siapkan jauh sebelumnya. Satu, pompanisasi. Kedua, irigasi. Ketiga, kita tingkatkan produksi dua kali lipat seperti ini, dari 5 ton produktivitasnya jadi 10 ton. 6 ton menjadi 11 ton,” ujar Amran.
Sementara jurus keempat adalah penggunaan benih yang lebih tahan terhadap kekeringan.
Menurut Amran, pemilihan benih menjadi bagian penting untuk menjaga produktivitas tanaman ketika pasokan air terbatas.
Amran menilai pengalaman menghadapi El Nino sebelumnya juga menjadi modal bagi pemerintah dalam menghadapi kondisi serupa pada 2026.
Berbagai persiapan dilakukan lebih awal sehingga dampaknya terhadap produksi bisa ditekan.
“Kan kita sudah punya pengalaman, kan? Insya Allah aman,” kata dia.
Di sisi lain, Amran menyebut produksi beras nasional hingga saat ini sudah menembus lebih dari 31,4 juta ton.
Dengan capaian tersebut, dia menilai ruang penurunan produksi akibat cuaca pada sisa tahun ini relatif terbatas.
Amran memperkirakan produksi masih akan bertambah hingga akhir tahun.
Bahkan jika tambahan produksi pada bulan berikutnya berada di angka sekitar 1,5 juta ton, dampak penurunan produksi dinilai tetap dapat ditekan.




💬 Diskusi Pembaca
0 KomentarMasuk dengan akun Google Anda untuk bergabung dalam diskusi:
Memuat diskusi...