HOLOPIS.COM, JAKARTA – Kemarau panjang memicu gagal panen cabai akibat serangan penyakit. Varietas Laba TAVI F1 diklaim tahan tiga penyakit utama dan berpotensi panen 23 ton per hektare.
Kemarau panjang menjadi ancaman serius bagi bisnis budidaya cabai.
Kekurangan air, cuaca panas, dan serangan penyakit dapat membuat tanaman mati sebelum panen.
Akibatnya, modal yang sudah dikeluarkan petani untuk membeli benih, pupuk, obat-obatan, dan membayar tenaga kerja berisiko tidak kembali.
Kondisi ini dialami Sawal, petani cabai asal Jawa Tengah.
Sebagian besar tanaman cabainya mati akibat tidak adanya hujan sehingga hasil panen jauh dari harapan.
“Akibat tidak ada hujan kami gagal panen. Ada sebagian kecil tanaman yang bisa dipanen, tapi itu pun hasilnya tidak bagus,” ungkap Sawal.
Kerugian akibat kemarau bukan hanya disebabkan tanah yang mengering.
Cuaca panas juga dapat memengaruhi populasi hama pembawa virus, seperti kutu daun, thrips, dan kutu kebul.
Pada saat yang sama, tanaman cabai menghadapi ancaman penyakit layu bakteri serta busuk batang atau akar yang dapat menghambat pertumbuhan hingga menyebabkan kematian tanaman.
Bagi petani, serangan penyakit menjadi persoalan ekonomi karena berpotensi meningkatkan biaya perawatan sekaligus mengurangi jumlah cabai yang bisa dijual.
Dalam kondisi seperti ini, pemilihan benih yang sesuai dengan tantangan budidaya menjadi salah satu pertimbangan untuk menekan risiko kerugian.
Peluang tersebut juga menjadi perhatian industri benih hortikultura.




💬 Diskusi Pembaca
0 KomentarMasuk dengan akun Google Anda untuk bergabung dalam diskusi:
Memuat diskusi...